Tahun ini adalah tahun
luar biasa buat saya. Dua antologi (LoveAt School terbitan Elex dan Jomblo :Prinsip Atau Nasib terbitan Indiva), tiga novel kolaborasi saya juga terbit
berurutan. Dimulai dari Short Story Girl: Pendek itu Menyakitkan (Sheila, imprint Penerbit Andi) yang terbit
November 2014. Lalu disusul The UdikGirl (Sheila), Maret 2015. Tak berapa lama kemudian (hanya selang beberapa
hari dari The Udik Girl), Glamo Girl
terbit juga. Kali ini yang menerbitkan adalah Senja, imprint Diva Press.
Lalu apa yang saya
rasakan setelah itu?
Bangga nggak sih?
Bangga, senang...layaknya
orang yang bukunya diterbitkan. Tetapi setelah itu saya kok malah jadi
kepikiran, ternyata setelah lebih dari sepuluh antologi dan tiga novel
diterbitkan, saya semakin merasa kurang.
Hah, apanya? Duitnya?
Eh, bukan ( kalau duitnya
tak usah dibahas hihi). Kurang yang saya maksudnya itu justru soal pengetahuan.
Dan saya merasa terbitnya buku-buku itu
memberi banyak pelajaran.
Berikut ini empat pelajaran penting dibalik terbitnya
buku :
1.
Sabar
Setiap
orang yang menulis pasti ingin bukunya diterbitkan. Tetapi sebelum itu tentu
anda harus menulis kan? Lha kalau tidak menulis apa yang bakal diajukan ke
pihak penerbit.
Sebelum
mulai menulis sudah banyak proses yang dilakukan. Dari menentukan tema, lalu
bikin sinopsis dan outline-nya. Setelah itu eksekusi outline menjadi sebuah
cerita utuh. Berapa lama waktunya? Tergantung. Ada orang yang bisa
menyelesaikan dalam tempo kurang dari satu bulan, ada pula yang udah nulis dari
lama nggak kelar-kelar (nunjuk diri sendiri).
Saat
tulisan kelar, masih harus bertarung dengan ratusan penulis lain di penerbitan.
Syukur tulisanmu diterima, kalau tidak siap-siap menerima surat cinta (baca :
email penolakan naskah). Tak jarang kita (kita? Saya kalee), menahan perih di
dada *bahasanya reek. Terus bilang ,”Duh, gini amat nasib tulisan gue. Udah
nungguin keputusan lama, ujung-ujungnya ditolak juga.”
Lebih
nggak enak lagi, setelah dikirim ke penerbit lain ditolak lagi. Tak jarang ini
bikin putus asa. Terus ogah nulis setelahnya.
Hal yang
sama terjadi juga ketika kita menulis cerpen atau cernak ke media. Bolak-balik
ditolak bisa bikin semangat menulis terbang entah kemana.
Ah,
benar-benar menyebalkan ya? Hihi, bukan menyebalkan hanya saja proses terbitnya
sebuah buku mengajari kita untuk sabar. Kalau tidak, ya wassalam.
2.
Berani
Saat
berniat menulis anda harus menepis berbagai ketakutan yang ada. Takut tak bisa,
takut ceritanya jelek, takut ditolak, takut akan komentar orang saat karya
diterbitkan, dan sebagainya. Kalau ini dipiara, kita takkan beranjak
kemana-mana. Hanya menjadi sebuah niatan basi, tanpa eksekusi. Alhasil kita
hanya bisa berangan-angan ,”Kapan ya bukuku diterbitkan?”
Sementara
orang lain berjuang untuk menggapai mimpinya. Jika akhirnya buku mereka terbit,
siapa yang bisa disalahkan? Mereka? Tidak, diri kita.
Kok
tahu, Fin?
Lha iya,
wong saya pelakunya.
3.
Terus Belajar
Semakin
kemari, saya merasa tidak tahu banyak soal ilmu kepenulisan. Jangankan teori
menulis, editing pun masih acak-acakan. Penguasaan EYD saya berantakan. Cara
saya mengolah kata juga auuh, terasa kurang nyaman. Dan masih banyak lagi
daftar ketidaktahuan saya.
Wow,
wow, wow...betapa ilmu saya kurang (garuk tembok).
4.
Promosi
Dulu saya
pikir, promosi dilakukan sepenuhnya oleh pihak penerbitan. Tetapi menimban
pengalaman berbagai teman saya mulai sadar, bahwa promosi tak bisa hanya
dibebankan kepada mereka. Selaku penulis kita harus membantunya. Caranya
macam-macam. Mulai dari kuis sampai promo jualan.
Dari
situ juga saya jadi banyak belajar. Misalnya dari kuis yang kemarin kami
adakan. Saya berdiskusi dengan teman-teman bagaimana aturan kuisnya, hadiahnya
apa, pelaksanaannya kapan, penanggung jawab pengiriman hadiah siapa dan
sebagainya. Soal hadiah kami sepakat harus yang unik dan lucu, yaitu boneka.
Kebetulan Fitri adalah flanel crafter, jadi dia bersedia membuatnya. Nah,
setelah terjadi kesepakatan saya baru bikin banner-nya.
Saat
kuis luncur, muncul hal-hal menggelikan. Mulai terancam akun twitter di-banned sampai calon hadiah lomba yang
tak kunjung datang. Yang pertama terjadi gara-gara terlampau semangat share
soal kuis tersebut sampai nggak memperhatikan aturan. Yang kedua terjadi karena
pihak jasa pengiriman baru menyampaikannya 12 hari kemudian (entah apa
kendalanya).
Secara
otomatis hal-hal itu bikin jantung berpacu. Terutama yang terakhir. Kalau hadiah gak
sampai-sampai juga, apa kabar? Kita bisa dimarahi sama pemenang lomba dong,
dianggap nggak pro karena hadiah nggak segera dikirimkan.
pic : courtesy of falfany fitri
Hal tak
terduga macam itu bikin saya paham, sebaiknya hadiah lomba sudah harus
terkumpul sebelum lomba diadakan. Antisipasi kalau terjadi masalah dengan pihak
jasa pengiriman. Maklum meski dalam kondisi normal pengiriman antar kota di
Jawa paling lama tiga hari, tetapi bukan tak mungkin sesuatu terjadi. Mungkin
banjir atau hal lain yang menghalangi tersampainya kiriman barang.
Hal lain
yang tak boleh dilupakan adalah promo jualan. Saya dan teman-teman merancang
bagaimana enaknya agar buku kami bisa terjual. Setelah diskusi sana-sini sambil
hitung-hitungan barulah saya membuat banner-nya seperti di bawah ini.
Amatiran
memang, maklum saya tidak menguasai ilmu bikin banner. Pokoknya asal gambar,
tidak pakai pertimbangan ono-ini dan segalam macam.
Lalu
harapan apa sih kami inginkan dibalik promosi tersebut? Apakah penjualan yang
laris manis alias best seller?
Haha,
penjualan semacam itu adalah impian semua penulis.
Tapi
kami (terutama saya) tak berpikir kejauhan. Yang terpenting bagi kami sekarang
adalah pengenalan karya. Maklum kami penulis baru, belum punya masa. Jadi
belum ada yang “menanti-nanti” karya kami bertiga. Kami lakukan promo semaksimal
yang kami bisa. Perkara best seller atau tidak, urusan belakang. Terlalu
dipikirkan malah jadi keder sendiri, kawan (hehehe).
So,
akhir kata semoga “Pelajaran di Balik
Terbitnya Sebuah Buku” bisa menjadi pengalaman bagi semua orang. Terutama yang
baru memulai terjun ke dunia penulisan, seperti saya.
Salam
eh.. .aku baru tahu bahwa tweeter punya aturan sendiri soal batas ngetwet... apa aja peraturannya? kok bisa kena ancaman ban? kalo lagi live tweet atau kulwit gimana tuh?
BalasHapusbatas ngetwi memang ada mbak Ade, tapi saya lupa berapa jumlah twit yang bikin akun kita di banned.
HapusKalau problem saya justru karena saya ngetag salah satu akun perkumpulan blogger, memang ada aturan khusus untuk yang kuisnya mau di share disana. Nah saking semangat kita gak perhatikan. Adminnya langsung kasih peringatan kalau dilakukan lagi akun kami akan dibanned, gak bisa posting apapun disana hahahahaha
Eh boneka Sashanya lucu, sayang ga menang kuisnya waktu itu hahaha ....BTW Banner promo buku itu ternyata Afin bikin sendiri, keren Bo' kirain yang bikin ilustrator dari pihak penerbit. Jadi lain kali kayaknya bisa deh novel, cerita bergambar atau komikmu ditambahin ilustrasi karyamu sendiri :) Sukses dear
BalasHapusitu yang bikin teman saya mbak, Jeng Fitri aka Ragil Kuning.
HapusIya banner promo bikin sendiri, asal aja. Pokoknya jadi gitu.
Wah semoga satu ketika doa mbak Lyta jadi nyata...Terima kasih sudah mampir kemari
Waaah, rasanya saya ikut senang membacanya.
BalasHapusSELAMAT ya, Mbak. Semoga laris manis bukunyaaaa :)
matur nuwun Pak, terima kasih sudah didoakan lari manis.
Hapus:)
Sama-sama, Mbak.
Hapussemoga bisamengikuti jejak mba Afin satu persatu bukunya diterbitkan :)
BalasHapusinsyallah Mbak Kania pasti bisa menyusul
HapusTapi tetap keren lah Mbak, sudah punya buku sendiri :)
BalasHapusTerima kasih mbak Riza, its long way to go :)
Hapussekarang penulis ikut mempromosikan buku-bukunya juga ya. Aku belum tahu masalah aturan ngetwit nih, jadi pingin tau
BalasHapuskalau kasus kami waktu itu bukan sama twitternya sebenarnya, tapi sama perkumpulan blogger. Jadi harusnya kami tuh twit link lomba bukan banner lomba.
Hapushehehe
untuk twitter sendiri memang biasanya langsung kasih sanksi kalau ngetwit kebanyakan dalam sehari itu
Aku juga ngerasain hal2 yang disebut di atas mbaa. Dulu mikirya cuma pengen bukunya terbit, ternyata perjuangan tak berhenti sampai disitu ya mbaa
BalasHapusBener banget mbak, lha itu dia yang baru kita sadari setelah nyemplung
HapusTerima kasih sharingnyaaa.. Aku setuju banget. bener tuhbutuh sabar dan soal promosi bener jugaaa :P
BalasHapusAh jadi kangen nulis lagi. Baru punya satu buku yang solo nih... aaaa jadi semangat baca ceritanya :)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapusbagian sabar itu yang terkadang huuf...sebab memang ternyata menerbitkan buku prosesnya panjang. Tidak sekali kirim, diterima, langsung terbit dalam sekejap.
HapusBisa jadi yang terbit tahun ini tulisan 2-3 tahun silam.
Wah ayo bikin lagi mbak Eka
Thank you untuk sharingnya nih Mbak, dan good luck buat bukunya :D
BalasHapusSalam kenal dari saya yang masih suka nulis blog (kalau inget) dan berharap bisa menerbitkan buku juga suatu hari nanti :)
mbak natalalia pasti bisa, saya juga dulunya blogger doang. Lama-lama jadi meningkat suka ikut lomba nulis, dan akhirnya pengen punya buku sendiri.
HapusKemoon
terimakasih sharingnya mba.. jadi keringatan juga nih ngebayangin naskah yang ditolak ntuuuu *hiks*
BalasHapusah, sama. Kami juga mengalaminya mbak. Waduuh, ternyata cenat-cenut juga ya ditolak *nyengir
Hapuskeren mbak bisa barengan gitu. Iya ya mesti sabar, namaku nongol di antologi salat satu penerbit, udah seneng banget :))
BalasHapusitu dia mbak yang nggak disangka. Lha terbit bisa barengan gitu.
HapusSama, kalau soal perasaan senang begitu nama kita ada di antologi. Gimana gitu
Deg-degan jugak kalok ada review ya, Mbak.. Hihihi :D
BalasHapusheheh, iya...terkadang tidak mengenakkan. Tapi, ketika buku sudah dilepas apapun pendapat orang itu syah! :)
HapusAh Mba, ternyata memang harus banyak lagi belajar ya, apalagi saya yang belum menelurkan satu buku pun, aku mah apa atuh
BalasHapuselaah, aku mah apa atuh
HapusMas Faris udah jalah-jalan kesana-kemari. Nah saya? belum
*edisi sawang sinawang