NGEMBAT BARANG DI HOTEL, YAY OR NAY?

 
Gambar oleh Annamos dari Pixabay.


Boleh dibilang saya jarang menginap di hotel. Paling hanya untuk acara-acara tertentu saja. Itu pun atas biaya pihak penyelenggara. Misalnya saat ada pelatihan atau event yang melibatkan blogger seperti event Mandiri Marathon beberapa waktu lalu.

Lazimnya orang menginap tentu saja saya mempersiapkan diri. Tidak hanya baju ganti, tetapi juga peralatan mandi semisal sabun, sikat gigi, odol, hingga handuk. Di hotel memang sudah tersedia, tetapi saya lebih suka memakai barang-barang pribadi.

Kecuali kepepet, baru saya memakai peralatan mandi dari hotel. Itu pun tidak semua. Paling-paling sabun mandi atau handuk saja. Sikat gigi selalu bawa sendiri, bukan memakai sikat gigi dari hotel. Entah kenapa saya kurang sreg memakai sikat gigi dari hotel, bulu sikatnya kurang lembut menurut saya.

Selama itu pula barang-barang hotel selalu terjaga. Tidak pernah terbersit sedikit pun untuk membawa atau mengambil barang milik hotel. Meskipun hanya sandal atau toiletries-nya. Buat apa? Toh di rumah sandal macam itu tak akan saya pakai. Saya lebih suka “nyeker” atau telanjang kaki saja di dalam rumah. Toiletries apalagi. Saya sudah memiliki toiletries favorit saya sendiri. Jadi untuk apa “ngembat” punya hotel meskipun dibolehkan? Hal ini berlaku juga buat kopi dan teh yang disediakan pihak hotel. Alasannya sederhana, saya nggak minum keduanya. Kalau air mineralnya iya, saya suka bawa pulang. 

Kebalikan dari saya seorang kawan selalu membawa oleh-oleh setiap kali menginap di hotel. Biasanya sih sandal atau toiletris-nya. Eman-eman lha wong sudah dibayar, katanya menjelaskan.

Nah, beberapa waktu lalu ada kasus yang viral bidang “embat-mengembat barang di hotel”. Pelakunya adalah sembilan orang turis dari India yang mengambil barang-barang di vila yang mereka sewa waktu melancong ke Bali. Mulanya mereka tidak mengaku, tetapi setelah digeledah dan ditemukan dalam tas mereka, para tamu-tamu tersebut mau mengakui kesalahannya. Bahkan mau membayar ganti rugi atas bang yang belum ditemukan.

Saking viralnya sampai dibuat video parodinya oleh Ixigo, situs e-commerce hotel dan travel dari India. Video itu berisi tentang mana saja barang yang boleh dan tidak boleh di bawa oleh tamu hotel. Video yang sejatinya iklan itu bikin saya ngakak sendiri.

Melihat video ini tak urung mengingatkan saya suatu waktu ketika memiliki kawan sekamar yang lucu. Orang ini termasuk pengikut ajaran “mengambil handuk hotel itu sah-sah saja, tidak dilarang”. Saya? Ya langsung njegrak (baca : rambutnya berdiri) mendengar ini. Buru-buru “Say no!” dihadapannya.

Ahai, takut ya? Ya, iyalah! Gila aja! Yang diambil handuk gitu lho. Kalau sampai kejadian dan handuk diketemukan di dalam tasnya, muka mau ditaruh mana? Barangnya tidak seberapa. Malunya itu sedunia!

Nah, ketika hal itu saya jadikan status, komentarnya malah bikin saya ngakak. Ada yang iseng bilang “Padahal bagusan bed cover lho!” (maksudnya dibandingkan bawa pulang handuk). Ada pula yang bilang mending bantalnya, empuk soalnya. Atau malah spring bed-nya. Wahahaha! Tentu saja mereka semua bercanda. Tidak serius sama sekali menjawabnya.

Namun, andai benar ada orang yang melakukannya, waduh … berarti niat betulan! Bayangkan, yang diembat bantal sama bed cover. Bagaimana cara mengambilnya? Sementara sebelum check out, bagian house keeping akan mengecek keberadaan semua barang yang ada di kamar kita. Masih di tempatnya atau justru berkurang? Kalau yang berkurang toiletries, teh, air mineral, atau kopi sachetnya tentunya oke-oke saja. Akan tetapi, kalau yang hilang macam teko, sendok, hingga cangkirnya tentu saja masalah bagi kita.

Untuk masalah tersebut, Mbah Dhani Pratiknyo yang kebetulan bekerja di salah satu hotel di Jakarta mengatakan ,”Semuanya bisa ditanyakan kok, mana yang free mana yang tidak. Di kamar hotel biasanya ada list-nya. Atau bisa juga ditanyakan ke House Keeping. Itu yang paling aman.”

Ngembat barang di hotel, yay or nay?
Nah, kalau dikembalikan pada pertanyaan tersebut jawabannya ada dua :


1.      Ngembat di hotel itu “Yay!” jika :


Shampo, shower gel, conditioner, dan dental kit boleh diambil.


Barang-barang yang diambil adalah fasilitas gratis yang sengaja disediakan hotel untuk para  tamunya. Berikut daftar barang-barang yang boleh di bawah pulang oleh tamu :
      a. Toiletries
Yang termasuk di dalamnya adalah sabun, sikat gigi, tisu toilet, pasta gigi, shampo, conditioner, tisu toilet.
     b. Teh dan kopi sachet
     c.  Air mineral
     d. Sandal hotel
Eits, tapi hati-hati ya terkadang ada juga hotel yang tidak memperkenankan sandal hotelnya di bawa pulang. Terutama jika si sandal memiliki bentuk yang unik. Seperti kata Mbak Dhani lebih baik ditanyakan baik-baik boleh tidaknya di bawa. Agar tidak malu hati saat check out nanti.

2.      Ngembat barang di hotel itu “Nay!” jika :

Teko, sendok, cangkir, dan nampan jangan sampai di bawa pulang.


Barang yang diambil tergolong barang yang tidak boleh dibawa pulang alias bukan fasilitas gratis untuk tamu. Barang yang termasuk dalam daftar tersebut adalah :
      a. Handuk
      b. Hanger
      c. Setrika sekaligus papannya
      d. Peralatan makan dan minum
      e. Teko
      f. Televisi
      g. Korden
      h. Lampu belajar
      i. Nampan
      j. Kasur/spring bed
      l. Seprei
      m. Bantal
      n. Bed cover

Kalau melanggar bagaimana? Mengambil sendok hotel misalnya? Sederhana, pihak hotel akan akan mengenakan biaya tambahan atau orang bilang “Kena charge!”. Anda dianggap membeli souvenir atas barang yang Anda embat tadi.

Meski demikian, jangan meremehkannya dengan berpikir “Oh, cuma kena charge aja. Gampanglah itu, keciiil …”.  Kalau pihak hotel menindaklanjuti  ketrampilan tangan Anda membawa barang-barang milik hotel tanpa ijin ke pihak yang berwenang, habislah Anda. Liburan yang seharusnya berkesan justru berakhir menyedihkan jika Anda berada di penjara. Anda tentu tak ingin merasakannya bukan?


Kegiatan ngembat barang-barang hotel ini bahasa kerennya adalah kleptomania oportunis. Dinukil dari laman Gulf News istilah ini berarti orang yang memiliki moral kokoh mendadak menjadi kacau sewaktu bepergian. Merasa tidak diawasi mendorong seseorang untuk berlaku melenceng dari kebiasaan.

Euforia liburan plus rasa aman sebagai tamu yang sudah membayar mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya seperti mengambil mug, sendok, bantal, atau malah matras hotel. Hal semacam ini bisa terjadi pada siapa saja, berkebangsaan apa saja. Bahkan tidak mengenal batas dan lintas negara.

Satu hal yang harus kita pahami agar hal semacam ini tak terjadi adalah memahami etiket menginap di hotel. Etiket menginap di hotel ada enam. Pertama, jangan memakai sandal kamar di luar. Kedua, sopan pada staf hotel. Ketiga, jangan membawa makanan yang berbau tajam. Keempat, perhatikan kondisi kamar sebelum check out. Kelima, jaga ketenangan lingkungan hotel. Keenam, ketahui mana saja barang yang tidak dan boleh dibawa pulang.

Dalam kasus ini, peraturan ke-6 inilah yang harus kita pahami benar. Apabila tidak tahu, tanyakan. Persis seperti kata Mbak Dhani di atas. Kenapa demikian? Agar kita terhindar dari kerugian, entah kena biaya tambahan atau yang lebih buruk dilaporkan ke kepolisian karena tindak pencurian. Anda tak ingin mengalami kedua-duanya bukan?



   

Komentar

  1. Aku termsuk rutin staycation ke hotel2 bareng keluarg, sampe bikin budget khusus utk itu. Soalnya ini termasuk liburan murah meriah bareng anak2, kalo sdg ga ada waktu utk traveling :). Karena itu, sampe ngembat barang hotel yg seharusnya tidak bisa dibawa pulang, NAY banget siih :p. jgn sampeee yaaa namaku tercantum dlm blacklist tamu hotel ;p. Barang2 yg boleh diambil, itupun ga selalu aku bawa. sama kayak kamu mba, toiletries akupun males, krn udh punya sendiri. kec toiletries hotel bintang 5 yg biasanya memang bgs :D. kayak Trans luxury, fairmont, itu aku pasti ambil secara body lotionnya aja enak banget wkwkwkwkwk... Slippersnya aku ambil sesekali. kalo memang sendal rumah punyaku udh butut , ya aku ambil pasti. Tapi cm slippers biasa yg aku tau boleh dibawa. kdg kan hotel nyediain slippers bagus yg udh kayak sendal beneran, naah itu ga mungkin aku kleptoin :p.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak. Kadang ada orang yang merasa udah bayar jadi ngiranya semua yang dsediakan bisa di bawa pulang. Laah, bisa apes kalau ntar di-blacklist hotel gara-gara ambil barang hotel sembarangan.

      Hapus
  2. teman suami saya ada yg pernah ngembat handuk hotel.lgsung ditelpon ma pihak hotel mbak.malu pastinya he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hwahaha, ya Allah. Aku bisa bayangkan, Mbak betapa tengsin dan merah padam mukamya.

      Hapus
  3. aku jarang banget bawa2 dr hotel, apalagi kl habis traveling bawa oleh2 saja sdh penuh kopernya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha itu dia, Mbak. Wong kadang gara-gara oleh-oleh saja suka bingung nyari wadah ya?

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buah Menebar Kebaikan Lewat Sedekah

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash: Antara Mood, Social Distancing, dan Corona

MARI BELAJAR MERAJUT BAGIAN 1 : SIMBOL DAN MACAM-MACAM TUSUKAN DASAR

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

Ekowisata Jaga Hutan Papua