ROMBEL CENDOL DAWET KIPAS 7 : RAMAI-RAMAI "MERASUKI" MURID SDN OROBULU


 

Saya sudah bersiap menempuhi medan berat ketika diterima di Kelas Inspirasi Pasuruan 7 (KIPAS 7) sebagai Relpeng (Relawan pengajar/inspirator) di salah satu SD di Kecamatan Rembang, Pasuruan. Tepatnya di SDN Orobulu. Saya bayangkan medannya akan seperti Sarongan dan Kandangan, tempat saya mengajar sehari di ISL Batch 4 dan Batch 5. Tidak hanya jauh dan melewati hutan-hutan, jalanan menuju kedua tempat itu juga menantang. 

Kalaupun tidak menantang, medannya pasti menggemaskan seperti desa Kaliglagah (Sumberbaru, Jember) yang saya tuju sewaktu ikut KIJE 6, tahun lalu. Tidak hanya melewati hutan, tetapi jalanannya buruk, berbatu-batu, dilengkapi dengan tanjakan, turunan, dan tikungan tajam. Pokoknya bikin hati berdebar, laksana dikejar mantan yang tak diinginkan. 

Aih, ternyata medannya tak seberat itu. SDN Orobulu tempat saya dan rekan-rekan relawan mengajar sehari tanggal 19 Oktober lalu tak jauh dari jalan raya. Jalanan ke sana pun sudah  beraspal mulus semua. Hanya sedikit saja yang tidak, tepatnya dari pertigaan jalan menuju desa Orobulu sampai ke tempat acara. Itu pun jalannya lempeng saja. Tidak ada gejolak  seperti yang saya alami seperti halnya ketika menuju tempat yang sudah saya sebut di atas.

Akan tetapi, Kecamatan Rembang memang tergolong rawan. Tidak heran jika relawan yang membawa sepeda motor dihimbau membawa kunci ganda untuk antisipasi tindak pencurian. Bahkan diwanti-wanti agar meminimalisir keluar malam hari. Jika pun keluar diusahakan berkelompok, jangan sampai sendirian.
Waduh, gawat betul kedengarannya! Jangan-jangan setiba di sana kita dicekam ketakutan semua, sampai harus bergantian berjaga agar tidak ada kejadian tak mengenakkan di sana. Kehilangan motor misalnya.

Ck, jangan keburu berburuk sangkalah, Kak Rhoma. Tunggu dulu, biar Esmeralda ini selesai bercerita *Wakakak, Esmeralda pasangannya Kak Rhoma? Harusnya Jose Armando dong, gimana sih?

Ah, tapi sudahlah. Let’s rock! Eh, let’s the story begin

Tanggal 18, saya berangkat dari Banyuwangi. Tidak jadi naik kereta Probowangi, tetapi naik Sritanjung karena kehabisan tiket. Tentu saja ini mempengaruhi jadwal kedatangan. Yang harusnya jam 20.07, jadinya maju menjadi pukul 12.05. Kebetulan ada teman sesama relpeng, Kak Ari, mau mbarengi ke meeting point di kecamatan Rembang. Tetapi, sampai di stasiun Bangil, situasi tidak berjalan sesuai harapan.

Saya pikir tadinya bisa nebeng di mushola stasiunnya sampai Kak Ari tiba pukul 19.00. Saya lupa kalau tidak diperbolehkan. Jangankan nebeng di mushola, begitu turun dari kereta, area stasiun harus steril dari penumpang. Kecuali bagi mereka yang hendak naik kereta, itu pun biasanya mendekati jam tiba, baru diperkenankan masuk ke dalam peron. Lha ini! 

Akhirnya saya mikir untuk naik gojek saja atau apalah, biar saya tidak ingah-ingih tujuh jam di stasiun Bangil. Ha, tetapi ternyata kata Kak Fahmi, fasil di grup Rombel Orobulu, di meeting point (kantor Kecamatan Rembang) belum ada orang. Wahahaha,  sampai senior saya pas kuliah dulu, Mbak Nungki yang rumahnya di Pasuruan, ikutan bingung tahu situasi ini. Mbak Nungki sampai ngasih tahu kudu jalan ke mana, biar nggak jemu selama tujuh jam nunggu Kak Ari.

Beruntung, rekan-rekan panitia KIPAS 7 itu tanggap. Saya yang fakir pengetahuan soal Bangil itu akhirnya mendapat solusi, dijemput oleh Kak Rizki (fasilitator Rombel lain) dan diantarkan ke rumah salah satu panitia KIPAS 7, Kak Danarjati. Di sana ternyata sudah ada Mbak Tari, salah satu relpeng di rombel Mbak Danar yang berasal dari Jakarta. Alhamdulillah, saya bisa istirahat dan meluruskan punggung di sini. Tidak jadi “garing mekingking” di stasiun Bangil sendiri.

Menggunting headpiece untuk acara esok hari
 
Pukul lima sore, Mbak Pipit, fasil Rombel Orobulu tiba. Bersamanya saya berangkat menuju kecamatan Rembang, sebelum berangkat bareng-bareng ke SDN Orobulu. Tiba di sana, saya masuk ke ruangan yang disediakan untuk relawan istirahat. Fyuh, udaranya man … hot-hot pop! Baru waktu keluar di pendapanya angin berhembus, memberi kesejukan dan menghalau kepanasan. Senyampang duduk menunggu kedatangan relawan lain, anggota Rombel Orobulu dari mulai fasilitator hingga relpeng gunting-gunting headpiece yang akan dipakai di hari H. Lumayan banyak sih, siswanya saja 156, sementara relawan jumlahnya mencapai 20 orang. Setelah semua rombongan hampir lengkap, barulah kami berangkat ke SDN Orobulu, tempat kami mengajar esok hari dan menginap malam itu.

 
HAL-HAL MENGGELIKAN SETIBANYA DI OROBULU
Tiba di Orobulu hari sudah malam. Dua orang teman, kalau tidak salah Kak Khilmi dan Kak Pay, berangkat ke rumah penjaga sekolah. Tak berapa lama beliau datang dan membukakan pintu ruang kepala sekolah dan perpustakaan, tempat yang disediakan untuk istirahat para relawan. Begitu pintu dibuka, relawan perempuan masuk ke kantor Kepala Sekolah. Sementara yang pria ke perpustakaan.  
Dan setelah ini hal-hal menggelikan berentetan terjadi :
1.           Tidak ada Nasi
Lauk sudah tersedia. Ada ayam masak pedas  yang full rempah, bali telur, suwir ayam, dan sambal klotok yang dibawakan Kak Ari semua. Niatnya begitu tiba, langsung masak nasi. Terus lanjut makan. Lhadalah berasnya saja tidak ada, hahahaha …
“Berasnya di bawa Mas Mik (Fahmi),” kata Tika.
“Lho? Kata Mas Mik kamu  juga bawa, Tik.”
“Enggak. Aku tuh bilang bawa masakan matang, buat sarapan.”
“Lha terus piye iki?”
Semua terbahak-bahak menerima kenyataan bahwa lauk yang sudah terpampang nyata itu belum memiliki teman setia, nasi putih pulen. Daripada nunggu Kak Fahmi, akhirnya Kak Pipit berangkat untuk beli di warung sekitar situ. Begitu beras tiba dan siap dimasak, yang terjadi kemudian adalah …

2.           Airnya tidak ada
Beras sudah dimasukkan panci rice cooker, siap dicuci, begitu keran diputar cuma udara yang keluar. Air setetes pun tak kelihatan. Akhirnya Pipit dan seorang kawan lain pergi mencari Pak Penjaga Sekolah di rumahnya. Namun, hasilnya nihil. Pintunya diketuk tak ada sahutan. Ditelepon pun sama saja. Bahkan tidak nyambung. Prediksi paling yahud adalah beliau sudah tidur dan ponsel dimatikan. So, celingukanlah semua orang gara-gara kondisi ini sampai kemudian muncul inisiatif untuk menelepon salah satu guru yang mengajar di SDN Orobulu.
Tak berapa lama, Bapak Guru tersebut dan Penjaga Sekolah muncul. Rupanya si Bapak Penjaga bukannya tidur seperti yang kami kira, tapi nongkrong di dekat sekolah dengan penduduk lainnya. Dan kami yang tidak tahu, sampai repot-repot nyamperin ke rumahnya. Ya salaam *elap kringet.
Begitu keduanya tiba, air langsung mengalir … sampai jauh (Bengawan Solo dong). 
Lho terus nasinya bagaimana? 
Ya, dicuci dan ditanak dong. Eh, tapi bukan dicuci dengan air keran tadi, Kak Rhoma! Namun, dicuci dengan air galon yang dibeli sebelumnya. 
Ha, lha kok gitu? 
Iya, pasalnya menunggu datangnya Bapak Penjaga Sekolah 'kan cukup lama. Padahal naga di perut itu tak bisa lagi di minta menunggu. Akhirnya teman-teman inisiatif mencuci beras dengan air galon sebelum dimasak dengan rice cooker meski harus ngirit sih airnya. Ha, tapi it doesn't matter lah ... Yang penting  teratasi. Bukan begitu, Jose Fernando? Hihi ...
Dan sembari menunggu nasi masak, kami bergantian mandi. Segar memang, tetapi tidak lama. Udara yang begitu panas, meng-ambyar-kan kesejukan air yang mengguyur sekujur badan. Berada di bawah naungan kipas pun tidak berefek besar. Esmeralda ini tetap merasa kepanasan.

3.           Matangnya nasi euy lama sekali!
Sudah ditengok-tengok, dirayu-rayu, sampai dilirik nista si rice cooker tetap tidak peka. Nasi yang dikandungnya tidak mau dimatangkan juga. Malah dia dengan bangga menunjukkan posisi tombol Cook yang masih seperti semula. Belum pindah ke posisi Keep Warm juga. Kan kesel jadinya!
Padahal kami sudah menunggu lama. Wah, daripada di-PHP terus akhirnya kita tumbangkan rice cooker itu. Kita begal nasinya, lalu kita masak dengan dandang saja. Tak lama nasi matang, tetapi apa daya …

4.           Nasinya keras
Menurut saya sih nasinya biasanya saja. Mungkin karena saya lebih senang nasi yang agak pera. Akan tetapi, yang lain memiliki selera berbeda. Mereka lebih menyukai nasi yang lebih empuk dibanding nasi yang dimasak malam itu. Alhasil di tengah rasa lapar dan mulut yang sibuk menelan ayam pedas full rempah, sambel klotok, suwir ayam, dan kerupuk, muncul celetukan “Nasinya keras yo?” sambil ketawa-ketiwi.
Beruntungnya saya yang suka nasi pera, nasi yang keras bagi lainnya, oke-oke saja. Apalagi ditambah sedapnya masakan Kak Ari, Kakak Chef di Rombel kami … ha wis nasi itu adalah pembungkam lapar yang tadi menyalak galak!

Akhirnya perut yang menyalak karena lapar mendapatkan asupan juga.
 
HARI H, WAKTUNYA KAMI “MERASUKI” MURID-MURID SD OROBULU
 
Wii, lha kok nyeremin gitu? Masa ya merasuki murid-murid SD Orobulu. Kalau kesurupan ‘kan gawat!
Aih, aih … bukan merasuki macam itu. Merasuki yang dimasuki di sini adalah memberikan inspirasi dan wawasan baru pada murid-murid di SD Orobulu ada beragam profesi lain yang bisa mereka tempuh selain dokter, guru, dan tentara. Ada drafter, admin rumah sakit, koki, penulis, engineer, customer service, juga distribution manager yang bisa mereka pilih sebagai profesi di masa depan. 

Selalu hebat, selalu keren, seperti ultraman, bip, bip, bip ...

Tentu saja tak langsung masuk kelas dan mengajar. Pagi hari, selepas mandi dan makan, kami berkumpul di halaman. Sebagian ngobrol sana-sini seraya menanti semua murid berdatangan. Sebagaian seru-seruan, bermain dengan para murid di halaman. Sekitar pukul tujuh, anak-anak berbaris rapi di halaman. Sementara kami, relawan berada di depan, berjajar dan bersiap mengenalkan diri setelah ibu Sri Hadiyati, Kepala Sekolah SD Orobulu memberi sambutan. Ha, tetapi diantara itu Kak Pay melakukan something yang bikin semua orang tercengang.
Dengan enteng dia bilang ,” … Kelas Inspirasi Tuban!”

Dziing, semua meliriknya. Yang dilirik baru sadar ketika suasana begitu “krik-krik!”, tidak ada yang menyahuti. Ya gimana, wong dia salah sebut. Bukannya Kelas Inspirasi Pasuruan, malah Kelas Inspirasi Tuban. Ck, benar-benar Kak Pay minta diganjar kartu kuning.

Usai itu dilanjutkan dengan menyanyikan Indonesia Raya dan dua senam ceria. Pertama senam Gemu Fa Mi Re yang dipandu Kak Tika, kedua senam Iwak Gathul yang dipandu Kak Jul. Namanya Rombel Cendol Dawet, acara takkan afdol kalau semua berjalan lurus-lurus saja. Seperti tadi waktu Kak Pay salah menyebut nama kota, waktu acara senam pun begitu juga. Harus ada adegan lupa gerakan biar acara jadi sempurna. Kalau baik-baik saja tak ubahnya ayam geprek tanpa sambalnya, kurang greget! 

Menjadi relawan pengajar di kelas satu (sumber  gambar: Andike KIPAS 7)
 
Nah, baru setelah itu masing-masing relpeng melaksanakan tugasnya. Saya masuk ke kelas satu di jam pertama. Baru kemudian kelas lima, di jam ketiga atau terakhir. Mau apa? Ya tentu saja mau “merasuki” para murid dengan cerita-cerita tentang profesi masing-masing. Berharap salah satu atau dua terinspirasi dan bermimpi untuk meraih cita-cita itu ke depannya. Jadi penulis seperti saya misalnya. 

Waktunya berapa lama? Tiga puluh menit. Nggak lama ‘kan? Ah, tetapi waktu sependek itu jadi terasa berabad-abad kalau sudah di depan para murid. Terutama di kelas kecil. Tahu sendiri ‘kan bagaimana anak-anak yang masih duduk di kelas satu. Whahaha, itu pula yang saya hadapi di kelas.
“Bu Guru, dia nakal sama saya.”
Satu berkata begitu. Satunya lagi nyusul karena diolok teman. Lainnya lagi sibuk lari-larian. Ada juga yang bertengkar. Fyuuh, jadi guru kelas satu itu butuh ketahanan, Kak Rhoma! 

Di kelas besar, suasana berbeda. Anak-anak  lebih rensponsif dan seru. Maka memberikan materi pada mereka selama tiga puluh menit jadi tidak terasa. Tahu-tahu waktu sudah habis dan anak-anak bersiap mengikuti acara terakhir, yaitu memberi cap tangan di atas selembar kain bertuliskan nama dan cita-citanya di masa depan.
Melihat anak-anak lain sudah mulai sibuk melakukan cap tangan, wah anak-anak kelas lima tidak sabar. Mereka ikut mengerumuni kawan-kawan lainnya untuk menyaksikan. Sekaligus bertanya  kapan giliran mereka. Kok tidak segera dilaksanakan seperti lainnya.

Terakhir, selepas acara cap tangan, kami berkumpul dan memberikan piagam kepada Kepala Sekolah SD Orobulu, Ibu Sri Hidayati. Disusul oleh acara foto bersama seraya memegang banner acara KIPAS 7. 

 
Cerahnya senyum Kak Candra, Kak Januar, dan Kak Pay (dari kiri ke kanan)

Kami pikir setelah ini tak ada acara lainnya, eh ternyata kami dijamu makan siang. Menunya sederhana, terdiri sayur bening kelor, sayur asam (jagung, kacang panjang, kecambah, juga ketimun kalau tidak salah), dadar jagung, tempe, tahu, udang goreng tepung, kerupuk, dan tak lupa sambalnya yang super pedas. Wah, benar-benar pucuk dicinta ulam tiba. Senanglah kami menikmatinya. Tidak hanya cocok dengan suasana luar ruangan yang  panas luar biasa, tetapi masakan sederhana itu juga lezat tiada tara! 

Selesai menikmati makan siang yang endes itu kami berkumpul kembali ke ruangan Kepala Sekolah. Kali ini acaranya tukar kado. Seru? Iya. Setelah diputar-putar sekian kali sesuai irama lagu, musik dihentikan dan kami membuka kado yang ada di tangan kami masing-masing. Hasilnya kami terbahak-bahak melihat kado yang kami terima. Yang paling ngakak waktu Kak Ari membuka kadonya. Dia dapat selembar jilbab dan masker warna kuning! Saya sendiri dapat kado novel karya Stephen King, The Long Walk. Haseeek …

Terima kasih Gengs!


Finally, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih untuk Rombel SDN Orobulu, Rombel ter-cendol dawet di Kipas 7. Terima kasih karena well prepared banget fasilitatornya. Relawan yang nemplok jadi satu di sana juga luar biasa. Bisa langsung klik dan cair meski baru jumpa, seperti sudah kenal lama. Ini yang bikin situasi jadi menyenangkan.
Kalau ditanya apakah ada komplain terkait penyelenggaran dan sebagainya, saya akan menyahut ,”I have no complain.”
Semua lancar, semua menyenangkan. Loss, nggak ada rewelnya. So, terima kasih banyak gengs! Semoga tahun depan bisa jumpa lagi di KIPAS 8 atau malah di Kelas Inspirasi lainnya.

Salam

Komentar

  1. Seru bangettt.. Semoga anak-anak yang ada di kelas jadi terinspirasi juga untuk selalu berbagi di masa depan mereka nanti ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak. Harapan kami begitu. Terinspirasi menempuhi profesi seperti yang kami ceritakan, dan berbagi inspirasi pada adik-adiknya nanti di masa depan.

      Hapus
  2. Selalu ada cerita seru di Kelas Inspirasi. Hari ini juga ada Kelas Inspirasi Pemalang. Sayang saya tak bisa ikut berpartisipasi gegara si Bungsu demam. Mudah-mudahan suatu saat kita bisa ketemu ya Kak, entah di KI kota manapun.
    Salam cendol dawet!
    eh
    Salam Inspirasi!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Woi, seneng banget ketemu sesama relawan kelas KI. Wah, semoga demikian, ketemu entah di kota mana. Semoga benar diijabah ...

      Hapus
  3. Tepuk saluuuut untuk Mbak Afiii. Dulu saya sempet jadi relawan panitia lokal Kelas Inspirasi Palembang, sekarang udah kerja, jadi semakin salut sama inspirator yang mau meluangkan waktu untuk menginspirasi anak-anak sd.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wei, Kakaaak. Seneng banget bisa ketemu sesama relawan. Nyari waktu buat cutinya yang memang agak susah ya. Wah semoga suatu waktu bisa ke Palembang

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buah Menebar Kebaikan Lewat Sedekah

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash: Antara Mood, Social Distancing, dan Corona

MARI BELAJAR MERAJUT BAGIAN 1 : SIMBOL DAN MACAM-MACAM TUSUKAN DASAR

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

Ekowisata Jaga Hutan Papua