CARA TEMBUS NUSANTARA BERTUTUR



Saya sedang berada di pantai KD (Kedung Derus), waktu email dari Nusantara Bertutur itu muncul. Saya langsung membukanya dan terbelalak membaca isinya : 

“Selama atas terpilihnya naskah tema “Kepulauan Seribu” dengan judul 
“Melancong ke Pulau Onrust” yang terbit di Harian Kompas pada Minggu 
26 Januari 2020.”

Allahu Akbar, saya tidak henti-hentinya bersyukur waktu itu! Sungguh, menembusnya bukan hal mudah. Dari sekian tulisan yang saya kirim ke sana baru kali ini saya berhasil lolos dan berhasil terbit.
Senang dan bangga? Tentu saja. Sewajarnya mereka yang naskahnya baru bisa menembus media yang diinginkan.
Merasa hebat? Wah, tidak! Masih banyak yang jauh lebih hebat. Lagipula baru tembus di Kompas sekali masa ya sudah hebat? Hahaha, nanti bisa ditertawakan katak!

Tujuh Hal Yang Perlu Diperhatikan Bila Mengirim Naskah ke Nusantara Bertutur
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi mereka yang hendak mengirim naskah ke Nusantara Bertutur :
  1. Perhatikan temanya
Setiap bulan, Nusantara bertutur selalu mengumumkan tema-tema yang hendak diangkat pada bulan berikutnya. Rajin-rajin saja melihat di akun instagramnya, sehingga tidak ketinggalan informasi.  Desember tahun lalu Nubee (Nusantara Bertutur) mengeluarkan tema “Kepulauan Seribu”.
  1. Bacalah karya yang terbit di sana
Saya yang bolak-balik gagal, merasa kali ini harus lebih baik dari sebelumnya. Saya baca karya-karya yang terbit di sana berulang-ulang, hingga paham jenis tulisan macam apa yang diinginkan. Tidak hanya itu saja, saya juga memperhatikan caption di akun instagram Nusantara Bertutur, mengapa naskah X, Y, atau Z bisa terbit di sana. Apa saja keunggulan mereka hingga membuat redaktur memilih cerita tersebut.
  1. Jangan lupakan riset
Sesuaikan riset dengan tema yang ada. Seperti yang saya tulis di atas, tema Nubee bulan Desember adalah “Kepulauan Seribu”. Dari hasil riset itu saya jadi paham, ternyata kepulauan seribu itu memiliki banyak kekayaan sejarah. Nah, masalahnya yang mana yang hendak diangkat? 
Tadinya hendak menulis soal peninggalan bersejarah di pulau Edam, tetapi setelah riset lebih mendalam saya akhirnya memilih pulau Onrust saja. 
  1. Buatlah outline
Bagi mereka yang mumpuni, outline mungkin tidak diperlukan. Akan tetapi, bagi kita yang nulisnya suka melebar ke sana-kemari, outline itu penting sekali. Dengan demikian, cerita tetap fokus, tidak melenceng jauh.
  1. Tulis dan edit sebaik mungkin
Memang benar, nanti ada editor yang akan mengoreksi naskah kita. Akan tetapi, jangan lupa yang mengirimkan naskah cerita ke sana bukan kita saja. Agar bisa bersaing dengan penulis lain, berarti naskah kita harus menarik sedari awal. Misal judulnya.

Jujur saja, saya tak pandai menulis judul. Saya selalu keteteran membuat judul yang menarik. Oleh sebab itu saya baca-baca ulang semua judul cerita Nusantara Bertutur yang terbit di Kompas. Baru kemudian memberi judul cerita pada naskah saya. Kalau dihitung-hitung mungkin tiga kali saya mengubah judul.

Selain judul-prolog, isi, dan akhir cerita juga jangan dilupakan. Selain menarik, harus bebas pula dari typo. Jika ini gagal, berarti kesempatan untuk lolos dan diterbitkan kecil. Oleh sebab itu, mengedit cerita itu sangat penting.
  1. Perhatikan waktu pengiriman naskah
Saya sudah berulang-ulang melakukan kesalahan di sini, baru menulis sewaktu deadline sudah mendekat. Tidak ada waktu untuk mengendapkan. Begitu nulis langsung di edit dan kirimkan. Begitu dibaca ulang ternyata kesalahannya banyak sekali. Kalau sudah begini yang bisa dilakukan adalah gigit jari.
  1. Perhatikan ketentuan pengiriman naskahnya
Ini klise, tetapi penting dan mendasar. Jangan sampai kita menyesal karena mengirimkan naskah tak sesuai ketentuan. Sebagus apapun naskah, jika tak sesuai ketentuan media tersebut berarti masuk tempat sampah. Contohnya berapa banyak kata atau karakter yang disyaratkan. Jika media lain mensyaratkan 600-750 kata untuk rubrik cerita anaknya, untuk rubrik Nusantara Bertutur di Kompas justru kurang dari itu. 


Ketentuan pengiriman naskah Nusantara Bertutur 
Di bagian atas sudah dibahas mengenai ketentuan naskah pengiriman. Nah, khusus untuk rubrik Nusantara Bertutur ketentuan pengiriman naskahnya adalah :
  1. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia
  2. Naskah harus asli merupakan karya sendiri dan belum pernah diterbitkan di media cetak apapun sebelumnya.
  3. Naskah dongeng dikirim dalam bentuk file dokumen word maksimal 2500 karakter (no space), font Times New Roman, 12 pt.
  4. Boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
  5. Melampirkan data diri lengkap penulis (Nama, alamat, nomor telepon, sosial media IG dan FB, nomor rekening).

Jika semua ketentuan tersebut terpenuhi langsung saja kirimkan naskahnya ke email nusantarabertutur@gmail.com. Jangan lupa sertakan surat pengantar di badan email ke pada redakturnya. 
Seperti halnya bertamu ke rumah orang, bukankah lebih baik jika kita mengucap salam? Nah, dalam case ini kita mengucap salam lewat surat pengantar tersebut.  Isinya bagaimana? Next kita bahas ya ....

Lantas berapa lama menunggu untuk tahu naskah kita ditolak atau diterima? Untuk rubrik Nusantara Bertutur tidak lama. Saya mengirimkan naskah tanggal 27 Desember 2019, terbit tanggal 26 Januari 2020. Jika satu bulan setelah tanggal pengiriman  itu tidak ada email yang menyatakan bahwa naskah Anda terpilih untuk rubrik tersebut artinya sederhana : D-I-T-O-L-A-K!  

Lho kok itu patokannya? Memangnya tidak ada surat penolakan naskah ya? Tidak ada. Satu-satunya tanda bahwa karya kita diterima atau ditolak adalah email di atas.
 
Nah, setelah mendapatkan informasi di atas, kini giliran Anda mengirimkan naskah ke rubrik Nusantara  Bertutur. Doa saya, semoa dimudahkan dan dilancarkan kala menulis hingga mengirimkannya. Jika belum tembus saat ini, tak apa. Saya pun harus menunggu  dua tahunan hingga naskah saya terbit di sana, di harian Kompas. 
   

Komentar

  1. Terima kasih mbak. Selama ini selalu penasaran bagaimana bisa melewati pos pemeriksaan editor nubee. Harus lebih banyak baca-baca-baca dan baca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Utari. Bener-bener kudu mantengin yang sudah terbit di sana.

      Hapus
  2. Keren banget, Mbak! :D

    Pasti persaingannya sengit banget, secara pasti nggak terhitung penulis yang pengen naskahnya tembus Nusantara Bertutur. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hoii, kawan lama! Apa kabar?

      Persaingan ketat banget, banyak yang bagus di luar sana. Jika lolos, waduh bener rejeki. Rasanya tanpa Allah susah nembus ke sana

      Hapus
  3. Salam kenal, Mbak. Saya Ceriaa, Makasih shareannya. Aku dulu pernah coba tahun 2018 kalo nggak salah. Ini mau coba lagi, Mbak. Semangat untuk saya. :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buah Menebar Kebaikan Lewat Sedekah

MARI BELAJAR MERAJUT BAGIAN 1 : SIMBOL DAN MACAM-MACAM TUSUKAN DASAR

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash: Antara Mood, Social Distancing, dan Corona

Ekowisata Jaga Hutan Papua

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK