Berkontribusi Pada Negeri dengan Menjadi Relawan Inspirasi Sekolah Literasi



Menjadi relawan Inspirasi Sekolah Literasi sehari, selamanya membekas di hati.
Berkontribusi pada negeri ini? Ah, dengan apa? Saya tak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Namun, pikiran itu berubah usai mengikuti Festival Baca yang diselenggarakan Save The Children Atambua pada bulan Juli 2016. 

Kala itu saya mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung reading camp di desa Fulur, Lamaknen. Di mana seorang fasilitator mengajari anak-anak membaca dan berhitung dengan cara yang menarik. Pengalaman itu membekas dan membuat saya tergerak untuk menirunya, meski skalanya berbeda.

Karena itulah saya mendaftar sebagai relawan Inspirasi Sekolah Literasi (ISL) sekembali dari Atambua. Kegiatan yang rutin digelar saban tahun ini bertujuan untuk mengenalkan beragam profesi sekaligus menginspirasi para siswa sekolah di pelosok Banyuwangi.

Di luar dugaan, acara yang berlangsung di daerah Licin itu demikian berkesan. Tak hanya mendapatkan pengalaman mengajar, tetapi empati saya terhadap kondisi dan kualitas pendidikan di pedalaman kian membesar. 

Tahun berganti, seiring waktu ISL tak hanya menebar inspirasi. Akan tetapi, juga mengajak relawannya berkontribusi dalam menginisiasi bedah perpustakaan atau perpustakaan mini jika sekolah yang dituju belum memilikinya. Contohnya di SDN Pringgodani seperti tertera dalam unggahan YouTube berikut ini:



Tak lupa, acara donasi buku juga diikutsertakan dalam kegiatan ISL ini. Nurul Hikmah selaku founder Rumah Literasi Indonesia mengatakan bahwa donasi buku itu bertujuan untuk membantu sekolah di pelosok mendapatkan buku-buku berkualitas yang non pelajaran, sekaligus  menstimulus anak-anak sekaligus guru-guru sekolah pelosok untuk cinta membaca.

“Literasi adalah muara pendidikan. Maka hal paling dasar inilah yang membuat gerakan ISL ini terus sustain (selama) 7 tahun terakhir digelar,” tuturnya melalui WhatsApp.

Saya setuju dengannya. Karena “Penguatan budaya literasi adalah kunci memajukan negeri ini” sebagaimana kutipan yang ditulis Lenang Manggala. 

Bagaimana denganmu kawan? Usah berkecil hati jika kontribusimu terhadap negeri ini sekecil yang kulakukan. Terus saja kerjakan. Bukankah melakukannya justru membawa kebahagiaan? Sebagaimana kebahagian orang-orang yang membaca buku Bahagia Bersama, buah kolaborasi antara JNE, Mice Cartoon. dan Kang Maman.

Komentar

  1. wah, senangnya bisa berkontribusi terhadap perkembangan literasi di negeri. Mbak rutin kah menjadi volunteer untuk ISL?

    BalasHapus
  2. Untuk mengisi waktu aku juga ikut jadi relawan walaupun secara virtual. Aku baru tahu ada ISL, jadi pingin cek instagramnya

    BalasHapus
  3. Waaah seneng banget bisa ikut acaranya bagus jadi mupeng gimana kak caranya biar bisa terlibat di acara tersebut

    BalasHapus
  4. Senang ya bisa jadi relawan.. literasi? emamng penting banget.. senang sekali kalau anak anak di Indoneisa bisa memiliki kemampuan literasi yang baik...

    BalasHapus
  5. Ahh baca ini jadi rindu semasa pernah jadi relawan literasi pendidikan di pedalaman NTT. Keren dan salut untukmu. Hal kecil yang kita lakukan namun membawa senyum bagi orang.

    BalasHapus
  6. Apapun bentuk kontribusi kita pada negara itu sangat berarti ya mbak. Senang melihat mba jadi relawan. Saya pribadi belum mampu nih kalau harus mengajar

    BalasHapus
  7. Wah salut deh. Pastinya menyenangkan ya bisa menjadi relawan. Biarpun cuma sehari kenangannya bisa selamanya. Semangat!

    BalasHapus
  8. Ah mbak bacanyak jadi mupeng deh pengn ikutan jadi relawan. Setau saya hanya ada kelas inpsirasi ternyata ada ISL wawww. Kegiatannya pasti amat sangat menyenangkan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

MARI BELAJAR MERAJUT BAGIAN 1 : SIMBOL DAN MACAM-MACAM TUSUKAN DASAR

MENIKMATI JAWATAN, YANG SERUPA HUTAN FANGORN, DI KALA LENGANG

DELAPAN PERMAINAN TRADISIONAL YANG GAUNGNYA HILANG DI ERA DIGITAL