05 Juni 2015

BERBOHONG ITU TIDAK GAMPANG




Hari yang menyenangkan ketika teman saya menelepon. Seperti yang sudah-sudah kami ngobrol panjang tentang banyak hal. Tapi diantara semua hal yang ia ceritakan ada satu yang menarik perhatian saya yaitu berita soal (sebut saja namanya) Bunga.

Bunga yang sekarang jauh berbeda dari Bunga yang dulu saya kenal. Gadis cantik, pintar dan baik itu telah bermetamorfosis menjadi orang yang suka omong besar. Mengaku punya usaha ini-itu dengan skala mencengangkan, tapi ketika dibuktikan tidak sesuai sama sekali. Maka bisa  dibayangkan apa yang terjadi kemudian—di jaman dimana komunikasi itu berada di ujung jari. Tak perlu telepon, tak perlu kirim surat. Tinggal buka saja BB atau WA maka berita itu menyebar dan akhirnya justru mengungkap hal lain yang lebih mencengangkan—seperti tidak bayar barang  yang ia pesan pada X padahal si barang sudah diterima, bertanya soal beberapa produk tetapi ketika diberikan contohnya dia menghilang tanpa jejak dan sebagainya.


Pertanyaannya  sekarang ,”Kenapa melakukan kebohongan?”
Ada beragam alasan yang kenapa seseorang melakukan kebohongan. Salah satunya adalah ingin terlihat hebat di mata orang. 

Kalimat terakhir itu akhirnya membuat saya melongok diri sendiri dan bertanya ,”Pernah nggak sih kamu berpikir untuk melakukan hal semacam ini?
Sebagai manusia biasa bukan tak pernah saya tergoda untuk menyombongkan diri. Membesarkan situasi, supaya dimata orang lain saya terlihat glossy. Bohong sana, bohong sini...supaya orang melihat betapa “Wah!”-nya saya.
Agar kebohongan itu bisa diterima, diperlukan seni tersendiri. Seni tingkat tinggi. Sebab kalau tidak kau hanya akan mendapatkan kegagalan. Seni berbohong membuatmu memperhitungkan segala hal. Mencocok-cocokkan segala hal agar orang yang diyakinkan percaya bahwa segala omonganmu adalah benar.


Tapi kenyataannya tidaklah gampang, semakin kita berbohong semakin kita sulit mencocokkan segala hal.
Taruhlah contoh begini :
Demi terlihat keren di Reuni SMA  (sebut saja namanya) Afin Yulia yang jelita (ngoook), berniat mengaku bahwa dia adalah seorang penulis terkenal yang karyanya sudah banyak masuk koran, majalah, dan penerbitan. Plus ditambahi bumbu ini itu yang mengesankan bahwa dia sudah sukses besar dan punya duit milyaran yang intinya bikin orang terkagum-kagum sampai liuran (maklumlah, dia tak ingin kalah dari teman-temannya yang rata-rata sudah jadi orang).

Keren kan?
Tapi segera setelah skenario kebohongan dibikin, Afin Yulia menyadari bahwa perkara cocok-mencocokkan keadaan dengan omong besar itu tidak gampang. Seperti keterangan berikut ini :

1.      Pekerjaan
Mengaku Penulis besar. Tapi begitu di cek via Mbah Google,  tidak ada tulisan satu pun yang menunjukkan kebesarannya. Novelnya baru tiga biji terbit, selebihnya belum ada. Jadi yang besar apanya? Badannya? OMG!

2.      Penampilan
 Mengaku penulis besar dengan duit milyaran. Selalu menyombongkan bahwa dia biasa nyalon  juga merawat diri di spa sekali sepekan. Kenyataannya kok mukanya ala kadar? Macam orang yang tak pernah melakukan perawatan. Pertanyaannya salon atau spa mana yang dituju? Dan ngapain dia disana? Ngepel?


Lihat jilbabnya. Sumpah deh itu jilbab Rp 15.000,00. Bukan jilbab mahal. Bajunya juga murahan. Aiih, gitu ngaku penulis terkenal?
Penulis terkenal dari HONGKONG?!

3.      Isi dompet
Masa iya seorang penulis besar kok isi dompetnya cuma dua ribu perak? Mana mungkin keles?


4.      Alas Kaki
Omong kalau duit milyaran, tapi alas kakinya dong hanya sandal jepit warna-warni yang dibeli saat obralan.
Jelas tidak cocok dengan situasi yang dia gambarkan.


5.      Tasnya
Ngaku kaya, bahkan berkata bisa beli tas mahil harga berapa saja dengan hasil menulisnya. Tapi kenyataannya tidak pernah sekalipun dia kelihatan memakai tas-tas itu. Yang selalu terlihat dipakainya justru tas rajut ini, yang dibikinnya sendiri. Luntur lagi.


6.      Makanan
Sebagai orang (terlanjur) kaya, Afin Yulia mengaku tidak bisa makan makanan kampung. Tapi yang mengenaskan doi kepergok makan oseng-oseng pepaya. Bohong besar dia!



Jadi begitulah, kawan. Ternyata berbohong itu tidak gampang. Perlu kecermatan, perlu kemampuan mencocokkan segala hal. Kalau tidak, jangan coba-coba daripada kerepotan.


Seorang bijak berkata :
Setiap kali kita berbohong sebenarnya yang kau bodohi adalah dirimu sendiri. Bukan orang lain.
Kau bisa saja menceritakan hal-hal yang tak sesuai keadaan untuk mengesankan orang. Tetapi semakin dalam kau berbohong, maka akan semakin banyak kebohongan kau ciptakan. Jika sudah begini, sama saja kau menciptakan jerat bagi lehermu sendiri. Satu saat jerat itu akan mencekik dan membuatmu mati.


“Eh, Fin...kau punya BB tidak?” mendadak teman saya bertanya. Dan buyarlah lamunan saya. Hihi saya lupa teman saya masih di ujung telepon sana, belum bubar dan masih bicara.
“Enggak,” kata saya.
“WA?”
“Enggak juga. Wong aku pakai semarphone kok (a.k.a plesetan smartphone alias  ponsel jaman jebot). Mana bisa dipasang aplikasi kayak begitu?”
“Waduh, kalau ada kan bisa gabung sama teman-teman alumni jurusan kita.”

Saya nyengir kuda. Berpikir-pikir, kalau nanti saya punya smartphone yang bisa diisi aplikasi BB dan WA, perlu gabung sama mereka atau grup-grup lainnya nggak ya? Eh bukan soal sombong atau bagaimana. Tapi saya agak takut juga jika nanti gabung saya jadi dengar-dengar gosip yang lebih heboh lainnya.

Lha wong nggak gabung BB atau WA saja gosip  panas yang masuk ke telinga ini sudah luar biasa. Bikin saya jadi ikut sebel, bikin saya jadi ngomel, bikin saya jadi ngomongin orang. Widih, padahal kalo dipikir diri saya sebenarnya nggak bisa disebut baik juga. Lebih pinter ngomongin orang ketimbang menyadari kekurangan diri sendiri *elap ingus.

Aih, mungkin inilah maksud Tuhan kenapa saya masih belum diberi rizki untuk membeli ponsel smartphone dan saudaranya itu yang bisa diisi aplikasi BB dan WA. Sebab Dia tahu akibatnya untuk saya, si dodol jaya.

Klik, beberapa detik kemudian percakapan terhenti. Saya kembali sendiri.
Terlepas bagaimana perilaku (sebut saja namanya) Bunga kini, saya berterima kasih padanya. Ia secara tidak langsung telah menjadi guru saya. 

Ah, sudahlah. Mari kita akhiri saja ceritanya. Semoga sampeyan dan saya selalu diingatkan Allah setiap kali pikiran melencong kemana-mana. Selamat akhir pekan!

Salam.

30 komentar:

  1. makasih diingatkan mak, mmm...better jujur ya lebih aman di hati :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Kania, kita gak repot cari alasan

      Hapus
  2. lebih baik jujur aja ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Top, Mbak Lidya! Daripada mumet

      Hapus
  3. Jleb banget ini tulisannya mbak....

    Tp skrg bukannya lg musim pencitraan emang ya hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, iya...lagi musim yang beginian memang

      Hapus
  4. Jadi apa adanya saja itu lebih menenangkan. Bahkan seorang teladan Rasulullah pun menjalani hidup dg sederhana ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali mbak Sie-thi, kita lebih bebas. Tidak pusing mencocokkan segala hal

      Hapus
  5. Subhanallah, aku pikir hanya tulisan biasa. Ternyata mengandung banyak manfaat, nasihat dan pencerahaannya. Hihii...

    Terima kasih mba Afilia :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Mbak Nurliana, alhamdulillah jika memberi manfaat

      Hapus
  6. kebohongan biasanya bikin kebohongan lagi untuk menutupi kebohongan sebelumnya ....dan itu yang bikin makin tidak gampang karena hati berontak hrs boong terus jadi memang ga gampang bohong itu, ga gampang membohongi hati

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha semakin banyak bohong, make-up nya semakin tebal. Jadi susah menghapus nantinya ya Mbak Rina

      Hapus
  7. Satu kebohongan muncul, kebohongan lainnya akan bermunculan.
    Terima kasih mbak untuk sharingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar mbak ika, akhirnya memusingkan kepala

      Hapus
  8. Afiiin... selalu tulisanmu banyak mengandung petuah yang gak muluk tapi jeruuu... thanks sobat

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mbak nungki, bisanya cuma gini

      Hapus
  9. Afiiin... selalu tulisanmu banyak mengandung petuah yang gak muluk tapi jeruuu... thanks sobat

    BalasHapus
  10. Ya
    Demi pencitraan ato malu karena anggapan aib bohong

    Salam
    @guru5seni8
    Penulis di http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com atau www.kartunet.or.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah, mungkin dua-duanya Mbak Tya. Entahlah

      Hapus
  11. Lebih baik jujur meski menyakitkan ya mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. lebih enteng mbak ika, meski jujur bikin kita dicela

      Hapus
  12. bohong aja belepotan palagi jujur yaaa...banyaaak bener makhluk-makhluk sejenis hobby ngayal yang tercipta di jaman smartphone ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahhaha, mungkin aslinya pengen jadi pemain sinetron mbak. Karena belum kesampaian ngayal dulu boleh

      Hapus
  13. Anonim11:26 AM

    Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  14. Hihihi...paling nyaman dan aman ya jdi diri sendiri, pribadi yang sederhana. Ketimbang bohong2 tapi ngga realistis ya, Mbak. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha bener Mbak Idah, sesuatu yang tidak realistis efeknya merepotkan :)

      Hapus
  15. Terkadang ada rasa bangga yang berlebihan dalam diri kita ya, Mbak.. Makasih banget uda diingetin :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hei, Beby. Saya yang terima kasih karena sampeyan juga ngingetin saya lewat kalimat ini "Terkadang ada rasa bangga yang berlebihan dalam diri kita", dan itu bahaya
      Semoga tiap kali itu terjadi, kita diingatkan Allah

      Hapus
  16. Bagus mbak,, cm yang sekarang banyak sy jumpai, kebanyakan orang berbohong bukan untuk pamer lagi mbak tp untuk dikasihani n menarik simpati (membumi untuk meroket). Ini tidak hanya di dunia pengemis tp banyak terjadi di lingkungan kerja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hwahaha...iya emang. Aduh, dunia kebalik sekarang ya Mas Firman. Dikasihani kok malah jadi kerjaan.

      Hapus