30 Desember 2015

AKHIR TAHUN MENJELANG, WAKTU YANG TEPAT MENSYUKURI KEMALANGAN




 
source : https://unsplash.com/
 
Tinggal sehari lagi, tahun baru akan datang. Lalu orang berbondong-bondong merayap ke berbagai titik keramaian, menyaksikan pergantian tahun dengan berbagai cara. Sekedar duduk nongkrong dengan teman, makan-makan, atau bahkan larut dalam pertunjukan seni yang diselenggarakan tanggal 31 malam.

Di sosial media, tak kalah ramai orang menyambut tahun yang akan datang. Beragam status dilontarkan. Kebanyakan berisi resolusi tahun depan dan pencapaian tahun sekarang. Menyenangkan membaca yang paling belakang. Lewat berbagai ucapan syukur kepada Tuhan atau serangkaian foto kompilasi keberhasilan yang diraih sepanjang 2015 mereka mengekspresikan kegembiraan.

Saya jadi tergerak untuk menuliskan ucapan selamat di bawah status mereka. Tetapi, ada yang janggal dengan saya. Tangan saya terhenti menyaksikan orang-orang “memamerkan” kebolehannya. Ya, ya...tiba-tiba saya merasa tidak bahagia, meski sungguh saya tidak menginginkannya. Itu  membuat “air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam” alias tidak enak makan dan minum perasaan jadi tak karuan. Mendadak apa yang kita capai tidak lagi cukup. Semua serba kurang, tidak cukup besar untuk melampaui pencapaian orang. Tidak cukup terlihat untuk diakui khalayak di dunia per-sosmed-an. Tanpa sadar envy  sudah merajalela. Saya batal mengucapkan selamat dan memilih melipir dari sosial media.
           

Lalu kenapa envy bisa datang?
Envy muncul ketika kita merasa inferior (lebih rendah) dibanding orang lain. Sebagai akibat dari seringnya berhitung pencapaian orang lain. Tak heran saat rasa ini datang, kita mendadak jadi manusia yang terfokus pada kekurangan. Merasa diri sebagai orang gagal setelah sederet impian gagal terwujudkan. Mulailah kita menyalahkan orang-orang yang menunjukkan kebahagian sebagai orang yang tidak peka, doyan pamer, dan menyebalkan! Bahkan bisa jadi menyalahkan Tuhan karena memberi terus-menerus memberi kemalangan sepanjang tahun. Lupa bahwa kenikmatan Tuhan tak selalu berupa kesenangan, tetapi juga kemalangan.

melihat pencapaian tahun sebelumnya boleh saja, tetapi terlalu menghitung dan menbandingkan dengan lainnya? Oh no..  source :http://www.splitshire.com/
 Kemalangan atau cobaan dalam arti positif akan membuka cakrawala baru bagi banyak orang. Mereka mencari cara-cara baru untuk memecahkan masalah, bukannya pasrah dan tertinggal di belakang. Ibarat jalan, kemalangan itu seperti jalanan yang macet di kala lebaran. Sudah tahu jalanan macet sedari jauh, eh malah memaksakan sepeda motor anda melewati jalan yang sama. Bukannya berusaha mencari jalan lain agar sampai tujuan. Bisa ditebak, yang didapatkan hanyalah frustasi dan kemarahan. Memaki-maki orang lain sebagai biang kemacetan dan sembarang hal yang bisa disalahkan. Bukannya menengok diri sendiri yang gagal mencari pemecahan.
Yang lain justru melihat situasi tersebut sebagai peluang. Melihat jalanan macet ia bergegas pulang lalu kembali dengan membawa setumpuk jualan. Es, air minum kemasan, makanan ringan, bahkan kipas dan mainan. Siapa yang akan senang jika demikian? Tentu orang kedua.

Tahukah anda? Seandainya Michael Langdon muda putus asa ketika kariernya sebagai atlet lempar lembing terhenti karena otot bahu yang robek dan tidak berusaha untuk memaksimalkan potensinya yang lain (dalam hal ini seni peran), anda takkan pernah melihatnya berakting di serial Little House on The Prairie, Bonanza, atau Highway to Heaven.
Tahukah anda? Seandainya Tontowi Ahmad, tandem Lilyana Natsir, itu mudah putus asa melewati proses panjang dan melelahkan sebagai atlet bulu tangkis mungkin kita takkan pernah melihatnya berlaga di kancah Internasional. Segala kekalahan dan kritik panas di telah. Ia pilih maju dan melanjutkan perjuangan.

Masalahnya kebanyakan orang itu mirip orang pertama. Saya contohnya real-nya. Kesulitan, kemalangan, kegagalan, cobaan—apapun namanya, harusnya tak menghampiri hidup kita (saya ding, bukan kita hahaha). Syuh, syuh...jauh-jauh! Yang boleh datang adalah kesuksesan, kemenangan, dan kegembiraan menggapai impian. Padahal cobaan (kemalangan menurut bahasa saya), adalah cara Tuhan menggembleng manusia menjadi tangguh, yang tahu bagaimana melangkah ketika krisis menghadang. Yang tidak lembek dan menangis bahkan di posisi paling sulit. Tidak enak memang. Terlebih di masa kita mengalaminya. Fyuuh, rasanya melelahkan! Tetapi, kelak kita akan mengetahui betapa bermanfaat segala kesulitan yang kita alami. Begitu kata orang bijak.

So, mari kita syukuri kemalangan di hari-hari yang lewat. Sebab dengan begitu kita diajari menghadapi kerasnya kehidupan. Lagipula selalu ada yang bisa kita syukuri dalam setiap kemalangan. Kesehatan, keluarga yang solid, pikiran yang bening, dan hal-hal kecil lain yang kerap terlewatkan karena kita terlampau memikirkan hal-hal besar (sukses dalam karier, dapat duit milayaran dst), adalah anugerah tak ternilai yang tak cukup dibeli dengan berton-ton dollar.

Salam dari kejauhan.

18 komentar:

  1. Hal2 yang kurang mengenakkan, adalah kesempatan untuk lebih banyak bermuhasabah dan memunculkan energi baru. 2 hal yang menurut saya tak dapat dibeli dengan uang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, cocok mbak ria. Setuju itu

      Hapus
  2. Super Mba Afin, tahun 2015. Komplit banget buat saya, komplit malangnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, beda tipislah sama saya. Jangan-jangan kita saling kirim telepati, kok bisa samaan gini.
      But kemalangan itu justru amunisi untuk menghadapi tantagnan ke depan, begitu orang bijak berujar *ahei

      Hapus
  3. Pukpuk mbak afin. (Tapi buat apa? Pencapaianmu keren banget)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hwaahahaha, makasih mbak Anik

      Hapus
  4. Kegagalan itu pasangannya kesuksesan. Kalo pasangan kan emang harus saling ada, saling melengkapi ya ga? Hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa, bener banget Neng! Cocok nih

      Hapus
  5. bersama kesulitan ada kemudahan, mba Afin. yakinlah. aku sering ngalami hal ga enak, hanya cerita sama orang yang dekat aja. makanya orang kadang ngira hanya hal2 baik yang datang. padahal selalu ada keseimbangan dalam hidup. dinikmati aja prosesnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener, tak ada manusia yang hidupnya lempeng-lempeng aja. Selalu ada hal-hal tak mengenakkan dalam hidup. And finally its gonna be wonderful

      Hapus
  6. Harus sering-sering mensyukuri pemberian Allah. Salah satunya, menyebut-nyebut nikmat-Nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha bener Mbak Ley, itu yang harus dilakukan. Menyebut nikmat Tuhan betapapun kecilnya

      Hapus
  7. sambil instrospkesi diri ya , terima kasih sudah diingatkan . happy new year

    BalasHapus
    Balasan
    1. aha, bener banget mbak Lidya. Selamat menghirup udara 2016 *aih ucapannya telat

      Hapus
  8. Yuuk ah jangan lupa bersyukur. . . :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mangga, mangga mbak Idah. Mari bersyukur

      Hapus
  9. malang malang putung..rawe rawe rantas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahahahah, you know lah mbaaak

      Hapus