Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

BERTEMU TUHAN DI PINGGIR JALAN



lewat tangan yang menengadah di terik siang
Ia meminta kita berbelas kasihan
mungkin saja ia penipu handal
bersembunyi di balik gombalan kumal
untuk mengesankan kemiskinan
demi sekeping atau dua keping recehan
namun tetapkan perasaan
berbaiksangkalah disisi ketidakyakinan

lewat perempuan  renta yang diam
tak kuasa berteriak meminta bantuan
memilih bungkuk punggungnya di antara tumpukan karung brambang
yang ia bersihkan
ketimbang menguarkan bau ketidakberdayaan
Ia minta kita mengulurkan tangan
bahkan sebelum ia meminta pertolongan

lewat kakak adik penjual gorengan
yang berdua-dua menyusur jalan
membantu ibu mencari uang
Ia mengajakmu untuk belajar tentang ketangguhan
dari mereka yang memilih untuk berhenti mengeluh
lalu lebih suka menyingsingkan lengan
mengais rizki di tiap pijakan jalan

lewat penjual legen bermuka masam
yang membuat minummu jadi tidak nyaman
yang menyimpan kekacauan perasaan
atas perut dan anak istrinya yang lapar
bila legennya kali ini tak banyak terjual
Ia tengah mengajarimu untuk mendoakan orang
supaya belit persoalannya hilang
Meski kau sempat jengkel oleh rautnya yang tidak menyejukkan

tak usah jauh bila ingin bertemu Tuhan
tinggal kau menengok ke sekitar
Ia ada di jalan, rumput, dedaunan, langit biru, gunung, bintang
ke semua arah mukamu kau palingkan 


pic : belong's to Dee

terinspirasi : seorang kawan yang berani ngutang bila menolong orang

Komentar

  1. Like this post a lot! Makasih diingatkan ttg keberadaan tuhan yg sangat sangat sangat dekat :)

    BalasHapus
  2. Asal mata dan hati kita benar2 terbuka, Tuhan emang amat dekat ya. Sedekat urat leher kita :)

    BalasHapus
  3. Semoga kita selalu menjadi hamba yang mampu melihat kebesaran Allah dimanapun.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

CARA MENGGAMBAR ILUSTRASI SEDERHANA DENGAN PAINT

OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

TONGKAT MADURA MILIK MAYA