Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

Bu Sih Pitajeng, Guru Favorit Karena Cara Ngajarnya Yang Asyik

source image : https://pixabay.com

Biologi selalu menjadi pelajaran favorit saya di bangku SMA. Saya suka membaca segala sesuatu didalamnya, terlepas gurunya pandai menerangkan atau tidak. Toh, masih ada bukunya. Kalau cara guru menerangkan membosankan, tinggal buka paketnya saja. Beres. Lain halnya dengan matematika. Mungkin karena pada dasarnya kurang suka segala sesuatu yang berbau hitungan. Gurunya seenak apapun saya tetap ngos-ngosan mengejar.
 
Kembali ke pelajaran Biologi, Bu Sih Pitajeng ini baru mengajar saya dan kawan-kawan di kelas tiga. Beliau sosok yang gesit, ramah, dan menyenangkan. Cara mengajarnya mengasyikkan. Dan tidak pernah menggunakan kekerasan, untuk membuat kami mendengarkannya. Intonasi suara yang tinggi pun tidak. Belajar Biologi dengan beliau itu seperti mendengarkan cerita. Saking ngalir dan enaknya bahkan pelajaran genetika yang rumit itu pun bisa kami terima dengan baik. Bisa dibilang tidak ada anak yang tidur sampai ngowoh karena bosan  bila beliau menerangkan. Semua "on fire" jika jam mengajar beliau tiba. 


Satu hal yang paling saya ingat di tahun terakhir saya di SMA itu, adalah kami diperbolehkan menghiasi buku catatan. Sebelum-sebelumnya kami tidak pernah menemui guru seperti ini. Guru yang lain standar saja. Datang ke kelas pada waktu jam pelajarannya, lalu memberikan materi sementara kami mencatatnya.


Bu Sih berbeda. Sepertinya beliau paham jika materi yang disajikan di tahun itu memang membosankan, terlebih dengan adanya pelajaran genetika yang membingungkan. Oleh sebab itu beliau mendorong kami untuk belajar dengan fun. Kami dibebaskan menulis materi menggunakan bolpoin warna-warni, bahkan didorong. Diberi ajang berkreasi, kami langsung mengiyakan. Jadi bisa dibayangkan buku kami pun jadi seperti pelangi, penuh warna. Tidak monoton sebagaimana pelajaran lainnya, di mana  buku catatan hanya ditulisi dengan tinta hitam atau biru. Merah, ungu, atau merah muda? Warna-warna itu jelas tak ada kecuali di buku catatan Biologi.

Photo by Foto Garage AG AG from Pexels

 

Serunya lagi, beliau juga senang mengapresiasi siapapun yang bukunya dinilai mengasyikkan. Penghargaan seperti ini tak urung memacu kami untuk "bersenang-senang" dengan pelajaran Biologi sampai tugas beliau mengajar kami usai. Apakah beliau pensiun? Bukan. Kami lulus dan  terbang melanjutkan hidup kami masing-masing.

Tahun berlalu, masing-masing dari kami (murid-murid Bu Sih) meneruskan hidupnya sendiri-sendiri. Ada yang memilih bekerja selepas SMA. Yang lain hijrah ke daerah berbeda untuk meneruskan studinya. Termasuk saya yang diterima di Fakultas Pertanian. Di tempat ini saya kembali bertemu dengan Biologi dan kerennya pelajaran beliau masih tersimpan baik di otak saya, terutama bab genetika. Bahkan sampai sekarang pun saya masih ingat. Gila ya! Padahal saya sudah lulus SMA sangat lama. 
Sekarang jika saya menengok ke belakang, saya mulai menyadari bahwa pelajaran biologi di tahun terakhir kami sebagai siswa SMA itu begitu menyenangkan karena dua hal. Pertama, beliau mampu menyederhanakan kerumitan di pelajaran Biologi sehingga yang tidak paham pun mampu mengerti. Kedua, membuat muridnya senang dengan pelajaran biologi yang membosankan itu dengan cara membiarkan kami berkreasi di buku catatan. Hal-hal ini tanpa sadar membuat kami terpacu untuk terus mengikuti pelajarannya tanpa perlu pemaksaan. Lah buat apa dipaksa wong senang. Ya ‘kan? 



Beberapa waktu lalu, saya bertemu putrinya, Tante Prima. Dari beliau saya tahu Bu Sih kini tinggal di Jakarta, bersama salah satu putranya. Wah, senangnya saya. Setelah bertahun-tahun baru kini mendengar lagi kabarnya. Tak ayal ini mengingatkan saya di hari-hari ketika saya masih menjadi muridnya. Ia guru yang baik, yang menginspirasi murid-muridnya untuk belajar dengan cara menyenangkan. Tak urung ini mengingatkan saya pada sebuah quote keren :


The mediocre teacher tells. The good teacher explains. 
The superior teacher demonstrates. 
The great teacher inspires.” (William Ward)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

CARA MENGGAMBAR ILUSTRASI SEDERHANA DENGAN PAINT

OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

TONGKAT MADURA MILIK MAYA