12 Februari 2015

DEPRESI VALENTINE : PERLUKAH?



Love is everyday, not only in valentine's day

Hari valentine sudah di depan mata. Segala sesuatu yang berkaitan dengan cinta dan kasih sayang mendadak nampang di mana-mana—rangkaian bunga, perhiasan ciamik untuk si dia, segala pernak-pernik lucu seperti teddy bear merah muda hingga hiasan bentuk hati bertulis “I LOVE YOU”. Tak lupa film-film romantis yang mengetengahkan tema happily ever after di teve dan bioskop. 

Buat sebagian orang hari valentine memang menyenangkan sebab di hari spesial itu mereka bisa saling mengungkapkan rasa sayang. Tetapi buat sebagian lainnya, yang jomblo dengan beragam alasan, valentine’s day kemungkinan menjadi hari yang menyedihkan. Tak hanya sedih, tapi juga menyebalkan terlebih bila melihat temanmu mendapat kejutan segebung kembang atau mengetahui mereka tengah merencanakan valentin-an dengan pacar. Alih-alih bahagia untuk mereka, yang ada si jomblo malah jadi Jones alias Jomblo Ngenes karena  mengalami depresi valentin.

Kenapa depresi?
Menurut Psychology Today, manusia itu butuh berhubungan dengan orang lain untuk berkembang dan berbahagia. Sebuah penelitian menyatakan bahwa orang-orang yang memiliki dukungan sosial kuat biasanya lebih bahagia, lebih cepat pulih dari sakit, dan mempunyai tingkat resiko depresi (perasaan tertekan) yang jauh lebih rendah.  


Sebaliknya orang-orang yang sendirian atau hubungan sosialnya kurang baik, justru kebalikannya. Perasaan semacam ini akan semakin menguat kala bila valentine’s day tiba. Tahu kenapa? Sebab Valentine’s day
mengingatkan mereka pada kesendirian dan duka cita yang ujung-ujungnya memicu perasaan hampa, kehilangan, sendirian, ditinggalkan, perasaan rendah diri atau penolakan.

Apa yang harus dilakukan agar tak terjerumus dalam depresi valentin?

Pertama, menerima kondisi. Anda memang jomblo, lalu kenapa? Tak usah mengidentikkan diri anda dengan status jomblo itu. Penting untuk disadari, status jomblo bukan cerminan diri anda. Jadi ketimbang bersedih-sedih dengan hal itu, kenapa anda tidak berbaur  dengan orang-orang terdekat anda. Coba deh lihat, keluarga kita. Sudah berapa lama kita tak berhubungan dengan mereka? Selama anda dengan si dia, pasti anda sudah sering meninggalkan orang tua, kakak, adik, atau saudara hanya untuk bersamanya.  Ketika masa jomblo tiba kenapa tidak memanfaatkannya untuk mengeratkan lagi hubungan dengan inner circle anda? Its gonna be fun! Bahkan anda bisa meraih keuntungan ganda. Satu, keluarga anda bahagia karena anda menghabiskan lebih banyak waktu dengan mereka. Dua, anda bisa mendapatkan dukungan dan simpati dari keluarga.

Kedua, sadarilah bahwa hari valentine sesungguhnya lebih mengarah ke sisi komersial ketimbang kasih sayang. Kalau tidak percaya coba deh pikir, ketika anda membeli coklat siapa yang diuntungkan? Begitu juga saat anda membeli bunga, balon, perhiasan, boneka dan pernak-pernik lain untuk kekasih anda. Semua berkaitan dengan penjualan. Karena menyadari betapa besarnya keuntungan yang akan didapatkan dari hari (yang katanya) spesial ini, tak heran bila banyak perusahaan makanan, baju, perhiasan yang gencar membuat iklan jualan bertema hari kasih sayang. Resort, hotel, dan restoran juga memanfaatkan momen ini agar profit mereka semakin menjulang. 

Ketiga, no valentine’s day means you can save more money. Saat anda jomblo anda tak perlu repot membeli bunga, boneka, coklat, perhiasan, atau mengajak pacar makan di resto mewah. Uang yang sedianya digunakan untuk membeli barang-barang itu bisa anda simpan dan menggunakannya kelak untuk keperluan yang lebih hebat. Beli laptop baru, bangun rumah, atau malah umroh mungkin? Kalau melihat situasi semacam ini, tanpa anda sadari status jomblo malah memberi keuntungan bagi anda. Dompet anda terjaga dan tabungan anda lebih banyak dari sebelumnya. Nah, kalau begini yang untung siapa? 

Keempat, menyadari bahwa jomblo adalah berkah luar biasa. Ketimbang berpikir “Duh, betapa kasihannya diri gue” kenapa anda nggak berpikir jomblo itu anugerah. Lihatlah di sekeliling anda, berapa banyak orang yang terjebak dalam hubungan yang menyebalkan.  Yang membuat mereka frustasi dan tertekan, membuat hari-hari terang jadi sekelabu hari-hari berhujan. Apa jadinya jika anda berada dalam situasi seperti ini? 

Kelima, do something positive. Ketimbang mengasihani diri kenapa nggak melakukan sesuatu yang positif untuk diri sendiri? Contohnya membantu orang lain. Beberapa riset menyatakan kegiatan seperti ini mampu membuat orang merasa bahagia. Dan akhirnya justru membuat anda menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. 

Kok bisa? Kenapa?
uang yang dulu dihabiskan untuk membeli kembang, kenapa tak disedekahkan? Rasanya itu lebih berguna untuk yang membutuhkan

Iya, sebab dengan membantu orang lain kita akan melihat diri sendiri lewat perspektif yang berbeda. Saat anda memberi, anda akan merasa berguna. Anda jadi tahu bahwa anda punya kekuatan untuk mengatasi dan mengendalikan situasi. Bukan lagi si malang yang butuh pertolongan mengentaskan masalahnya dengan  bantuan orang. Secara tidak sadar optimisme akan mengalir dan membuat anda menyadari bahwa anda mampu berbuat sesuatu. Bukannya diam menerima keadaan. Tak hanya itu, dengan melakukan hal baik berarti anda menarik konsekuensi positif dari lingkungan sosial anda. Kelak jika anda kesulitan, bukan tak mungkin dukungan sosial akan meluncur dengan sendirinya. 

Sekarang, coba lihat sekitar. Cari kira-kira siapakah yang butuh bantuan? Jika anda pergi ke masjid di hari Jum’at, tengok adakah penjual tissue atau asongan disana? Belilah barang-barang jualan mereka. Kali ini tak usah minta kembaliannya. Jika disekitar rumah anda anda janda tua kenapa tak anda selipkan sedikit uang di celah pintunya. Lalu pergilah dan lupakan anda pernah berbuat baik. Percayalah dengan membantu orang, sebenarnya anda sudah membantu diri anda sendiri.


Jadi kesimpulan dari topik “Depresi Valentine : Perlukah?” sudah jelas. Bahwa anda tak perlu merasa depresi dengan kejombloan anda. Anda justru harus berbahagia. Begitu banyak hal baik yang bisa anda lakukan di luar sana. Begitu banyak hal hebat menunggu anda. Jadi keluarlah dari cangkang anda. Mari kita bersama berseru “Cheers!”.


Salam hangat dari kejauhan.

10 komentar:

  1. Cheers :D
    Banyak hal positive yg bisa dilakukan. Jadii jombloers, please no galau ~

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget mbak Lia, jadi jomblo itu bukan berarti harus menderita. Mojok sendirian sambil nangis

      Hapus
  2. biasanya remaja ya yang galau dan bingung saat valentine :)
    btw, batunya lucu banget.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. orang dewasa pun bisa galau, ketika lingkungan sekitarnya beramai-ramai tenggelam dalam suasana valentin hihi

      Hapus
  3. banyak hal yg positif yang bisa dilakukan untuk hari ini. saya pernah bersama murid, menengok oma dan opa di panti dan menghibur mereka dan mnghibur orang2 yg sakit di rumah sakit. banyak pengalaman yg membahagiakan saat kita bisa berbagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha iya Mbak Tira, itu jauh lebih keren ketimbang menghamburkan uang demi sehari yang bernama hari valentin

      Hapus
  4. hari kasih sayang itu setiap hari dong, dan namanya ini lebih tulus daripada hanya dibibir saja hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. cocok Mas Salman, hari kasih sayang itu setiap hari

      Hapus