23 Februari 2015

PROBLEMA : TERPAKSA DILANGKAHI ADIK KARENA “KECELAKAAN”





Saya sedang iseng menengok posting lama ketika membaca komentar Anonim yang berbunyi :

Mbak, kalo boleh tau, setelah menikah adik mbak tinggal sama siapa? Kalo saya, karena adik masih belum mapan dan telah menghamili diluar nikah, akhirnya mau dinikahkan dan setelah itu tinggal sama ortu dan saya selaku kakak perempuan satu2nya ( kami hanya 2 bersaudara). Saya khawatir sekali akan pandangan tetangga dan saudara, sebelumnya aja mereka uda memandangi saya dgn begitu apalagi nanti adik saya menikah dan ngadain pesta dirumah.. Dan pacar adik saya adalah anak yg belum cukup umur, sedangkan saya adalah seorang wanita dewasa yg sudah saatnya menikah akan tetapi masih belum menjalin hub dgn siapapun..Alangkah baiknya jika saya bisa memiliki sifat cuek bebek seperti mbak tanpa harus mikirin kata2 org lain. Boleh minta sarannya mbak?


Ada semacam perasaan bersalah muncul karena telat membacanya. Maklum posting berjudul “Jika Status Jomblomu MenghalangiPernikahan Adikmu” itu tayang sudah lama, sekitar tahun 2013. Jadi komentar-komentar yang masuk belakangan luput dari perhatian saya. 

Membaca komentar itu tak urung membuat saya membayangkan jadi Mbak Anonim. Sebagai lajang, saya tahu rasanya ditatap kasihan oleh orang-orang karena saya masih sorangan. Belum terlihat tanda-tanda hendak melangsungkan pernikahan meski usia sudah matang. Secuek-cueknya saya ngadepin mereka, kadang-kadang saya juga tidak nyaman.
Karena itu saya bisa mengerti kalau Mbak Anonim merasa gusar. Ditatap dengan kasihan saja sudah tidak mengenakkan perasaan,  apalagi dilangkahi adik karena “kecelakaan”. Tambahan kasus di belakang itu pasti memukul perasaan. Tapi siapa juga yang tidak terpukul?  Siapapun anda, mengetahui adik menghamili anak orang itu wow...menyesakkan! 

ditatap dengan kasihan saja sudah tidak mengenakkan apalagi dilangkahi karena adik kecelakaan
 
Saya pikir keputusan keluarga  mbak Anonim sudah benar
Terlepas apapun pendapat orang, keputusan keluarga Mbak Anonim untuk menikahkan adik dengan kekasihnya itu sudah benar. Kalau ditinjau dari kacamata positif saya melihat ada sesuatu yang lebih besar dari sekedar menutupi aib. Yaitu mengajari adik bertanggung jawab. Jadi dia tahu ketika dia melakukan kesalahan dia tidak bisa seenaknya cuci tangan. Jadilah ksatria dan lakukan apa yang seharusnya, menjadi ayah dan kepala rumah tangga.
Perkara belum mapan secara finansial biarlah Allah yang akan menunjukkan jalan. Saya banyak bertemu orang yang ketika belum menikah pikirannya dangkal,  ketika menikah jadi berbeda. Jadi lebih bertanggung jawab dan dewasa. Mau bekerja keras, karena dia tahu ada mulut-mulut yang harus ditanggungnya. Yaitu istri dan anaknya.

Adik  (sebaiknya) tinggal dimana setelah menikah?
Situasi yang saya alami berbeda dengan mbak Anonim. Karena adik saya sudah terhitung sudah mapan kala itu, jadi setelah menikah ia langsung memboyong istrinya ke Kalimantan. Meski adik ipar pernah tinggal bersama kami namun hanya untuk melahirkan, setelah itu dia kembali lagi ke Kalimantan. Sebaliknya, karena adik Mbak Anonim belum mapan, setelah menikah ia pilih tinggal  dengan orang tua.
Bila ditinjau dari situasi,  saya rasa pilihan tersebut adalah pilihan yang paling baik. Kenapa begitu? Kenapa nggak disuruh tinggal di tempat lain? Ngontrak misalnya? Biar bisa mandiri dan belajar bagaimana repotnya jadi orang tua.

Harusnya sih iya. Hanya saja melihat sikonnya, sepertinya masih belum memungkinkan. Bagaimanapun juga menjadi pasangan baru sekaligus orang tua baru itu tantangan besar.  Apalagi untuk orang yang secara usia belum matang plus belum siap mental menjalani pernikahan (asumsi saya usia adik Mbak Anonim sekitar 18-22 tahun/anak kuliahan dan istrinya sekitar 15-17 tahun). Dalam fase ini bimbingan kedua orang tua masih sangat dibutuhkan. Sehingga mereka siap jadi jadi orang tua meski pernikahan keduanya dilakukan karena “terpaksa”.

perlu kesiapan mental memiliki anak



Swear deh, jadi ortu baru itu tidak segampang yang dibayangkan. Masa menjadi orang tua yang terlalu cepat bisa menimbulkan ketegangan. Terlebih saat mereka masih mencapai tahap penyesuaian (soal kebiasaan, pengaturan keuangan, dll). Jika tanpa dukungan, ayah dan ibu baru bisa stress mikir hal ginian. Apalagi faktanya jika belum mapan.
Tapi tentu saja ini tidak bisa selamanya. Tidak bisa terus-menerus bergantung pada orang tua. Pada saatnya adik harus keluar rumah dan membangun sendiri keluarganya. 

Ada konsekwensi yang harus ditanggung karena peristiwa itu
Setiap peristiwa memberi konsekwensi berbeda. Begitu juga peristiwa yang dialami Mbak Anonim sekeluarga. Jadi bahan omongan, ditatap dengan pandangan yang tidak mengenakkan, disindir macam-macam tak mungkin bisa dihindari lagi. Tidak menyenangkan memang, tapi kalau diladeni malah merepotkan. 

Masalahnya kita hanya punya dua tangan. Tidak bisa kita menutup mulut semua orang. Yang harus dilakukan dalam keadaan begini adalah menggunakan tangan untuk menutup telinga kita sendiri dan terus melangkah ke depan. 

“Hidup bukan tentang omongan orang, tetapi tentang waktu yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.”
(Shabrina WS, Antologi Jomblo Prinsip Atau Nasib hal 65)

Kalau bahasa pantunnya sih :
Nasi sudah jadi bubur
Apa yang sudah terjadi, nggak bisa lagi diundur

Jadi lebih baik “StopDengerin Komentar Negatif Orang!”. Jangan buang waktu dengan mendengar hal-hal semacam itu. Yang paling penting adalah melakukan hal terbaik untuk menyongsong masa depan. Dan itu sudah dimulai dengan membiarkan adik mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Demikian tadi tulisan tentang ‘PROBLEMA : TERPAKSA DILANGKAHI ADIK KARENA “KECELAKAAN”’. Terima kasih untuk Mbak Anonim atas sharing-nya, semoga kisah anda (plus sedikit tanggapan kecil saya) bermanfaat bagi siapa saja. Khususnya saya. Meski saya telat meresponnya.
Salam.

6 komentar:

  1. memang dalam keadaan begitu jangan telalu memikirkan pendapat negatif orang lain ya. Btw kalau aku komennya di moderasi jadi komen di postingan lama tetap terbaca di email

    BalasHapus
  2. Iya mbak Lidya, bener itu. Nggak usah mikirin pendapat negatif orang. Apa yang dialami jeng anonim itu bisa dialami keluarga manapun bahkan yang baik-baik je.

    Tadinya mau dimoderasi mbak Lidya, tapi saya onlenya hanya sekali atau dua kali seminggu. takut numpuk hihihi

    BalasHapus
  3. Saya malah dilangkahi oleh kedua adik saya, bukan karena "kecelakaan" tapi lebih ke jodoh mereka sudah datang dan mereka sudah mapan. Omongan orang? wow santer banggeeettt. Tapi so what lah, saya pikir jodoh sudah ada masing-masing dan mereka cuma ngomong doang, ngapain dipikirin. Kan usaha kita cari jodoh nggak perlu juga digembor2kan ke khalayak ramai.
    Tapi, mungkin Mbak Anonim itu orangnya perasa ya ^_^. Coba cari kesibukan yang bikin capek dan teralihkan perhatiannya, Mbak.. :)
    Trims juga sudah sharing.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Riski yang kece
      saya justru salut dengan keputusan sampeyan. Apapun omongan orang kalau kita tak ambil pusing, rasanya takkan ada pengaruhnya. Lagipula urusan jodoh mah urusan Allah.
      Masa gara-gara belum ada jodoh kita menghalangi pernikahan adik?

      Keren, keren banget.
      salam kenal

      Hapus
  4. saya yang bungsu dan belum nikah saja sudah dibikin pusing sama masalah kaya gini, ortu sih diam saja cuma tetep gak nyaman sama pandangan orang apalagi teman-teman yang udah nikah dan punya anak,, duh apalagi kalau dilangkahin ya, kayanya tambah mumet. tapi saya anggap aja angin lalu toh mereka gak ngasih saya makan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Neng ila, santai saja. InsyaAllah kalau sudah jalannya pasti sebentar lagi sampeyan akan menuju pelaminan.

      Dan saya setuju dengan anggap angin lalu itu.
      Daripada ngomongin mbok ya nunjukin satu aja pria yang baik hati dan pantas untuk dijadikan suami ya neng mereka itu hihihi

      Hapus