22 Oktober 2016

MENGAJI KEMBALI DI USIA KE-28, ITU PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN



source : https://pixabay.com


DITEGUR TUHAN
            Merasa cukup dengan pengetahuan agama, saya tidak merasa perlu untuk menambahnya. Sampai satu hari saya ditegur Tuhan lewat peristiwa kecil yang berefek besar.
            Sore itu saya mendengar kumandang adzan dari surau kecil di timur kantor kepolisian. Sang muadzin sudah tua, terdengar jelas dari suaranya. Tetapi, bukan itu yang jadi pangkal kejengkelan melainkan kekukuhannya mengumandangkan adzan meski tahu suaranya tak memenuhi syarat—buruk, gemetar, napasnya pendek, dan nadanya asal. Parahnya lagi panjang-pendek yang harus diperhatikan dalam adzan diterjangnya habis-habisan. Kentara bila sang muadzin tak paham tajwid dengan benar.
            ”Ck, muadzin tak becus tajwid begitu disuruh maju. Yang lainnya memang gak ada? Yang muda-muda, yang paham cara ber-adzan kan ada?!” gerutu saya.
            Di detik itu juga, Allah mengusik hati kecil saya dan membuatnya bertanya ,”Bagaimana jika anak muda yang kau maksudkan tidak ada? Atau kalaupun ada mereka tidak mau mengambil alih tugas itu dan memilih menjadi penggerutu seperti kamu? Dan kamu sendiri bagaimana? Mengatai orang tak becus tajwid, memangnya sudah berkaca? Lihatlah, kau sendiri tak lebih baik dari muadzin tua itu. Ilmu tajwid-mu jauh dari sempurna!”
            Saya tertegun. Deretan kalimat itu membuat saya tercenung cukup lama. Perlahan mendorong satu hal baru dalam diri saya, ingin mengaji kembali setelah sekian lama merasa cukup dengan pengetahuan yang saya punya. Mengaji kembali dari nol.  Tetapi, dimana? Memangnya ada tempat mengaji yang mau menerima orang dewasa.

            Tuhan yang baik itu menunjukkan jalan lewat sahabat saya.  Adiknya, Nik, tiap sore mengaji di tempat Pak Munir. Saya tertarik untuk ikut dengannya.
            “Kalau mau besok juga bisa, Mbak. Nanti Mbak berangkat bareng saya,” ucap Nik pada saya.
            Saya mengiyakan. Tetapi, sewaktu hari itu tiba saya nervous juga.

HAMPIR BATAL
            Saya hampir saja membatalkan untuk mengaji di tempat Pak Munir bareng Nik. Pangkalnya apalagi kalau bukan pikiran macam-macam. Ya, saya khawatir di tempat mengaji  nanti  saya ditertawakan. Maklum, usia saya 28. Masa ngaji lagi di usia demikian? Jika itu terjadi apa yang harus saya lakukan?
            Ogah, ah! Mending di rumah aja. Nggak perlu merepotkan diri mengaji kembali. Toh saya sudah bisa sholat, membaca Al Qur-an, dan berjuta alasan lain yang intinya memberi excuse atau pemakluman. Tetapi, disisi lain saya juga berpikir, sejak kapan menuntut ilmu itu memalukan? Lagipula tak ada batasan sampai umur berapa menuntut ilmu diperbolehkan. Apalagi ilmu agama. Dari situlah akhirnya saya meneguhkan hati untuk tetap berangkat mengaji. Mengulang semua dari nol lagi.
            Dan satu yang saya syukuri, apa yang saya khawatirkan di hari pertama itu sama sekali tak terjadi. Tak ada ejekan atau tatapan mencemooh. Semua teman-teman saya, yang notabene masih duduk di bangku SMP dan SMA menerima saya dengan tangan terbuka.
           
MENGAJI KEMBALI, TANTANGAN TERSENDIRI
            Tantangan pertama itu bernama Nik.
            Nik bukan gadis biasa seperti pada umumnya. Sejak kecil ia tunanetra. Jika berjalan bersamanya tentu tak bisa seenaknya. Kau harus memegang memegang lengannya, bukan menggandeng tangan seperti biasa. Jalannya pun tak bisa seenak saya. Kecepatannya harus sama agar Nik bisa berjalan dengan nyaman.
            Itu tidak gampang. Terutama untuk saya yang jalannya wuz...wuzz! Cepat sekali.  Banyak orang yang mengeluh bila berjalan dengan saya. Mereka bilang saya terlampau cepat, padahal menurut saya biasa saja. Bahkan jika saya mengerem kecepatan pun mereka masih menganggap saya terlalu cepat. Maka bisa dibayangkan bagaimana berjalan dengan Nik.
            Karena itu saya berusaha menurunkan kecepatan. Ritme langkah diatur agar Nik tidak kerepotan. Tetapi bagaimanapun membiasakan hal baru itu bukan hal gampang. Kerap saya berjalan begitu saja, lupa kalau ia tunanetra. Menggandengnya seolah orang biasa. Tak ayal ia jadi kesulitan mengikuti langkah saya, atau bahasa Jawanya kepontal-pontal.
            Aduh, Maak! Susah banget pikir saya.  Cuma satu yang bikin saya tak putus asa menggandengnya, saya membayangkan jadi orang tuanya. Jika menggandeng saja sudah jadi tantangan, bagaimana dengan mengasuhnya? Pasti tantangannya lebih besar.

            Tantangan kedua adalah teman-teman di tempat mengaji. Namanya remaja pasti beda dengan orang dewasa. Cara mereka bercanda, bicara, bahkan berlaku tentu tak sama dengan kita yang umurnya sudah jauh di atas mereka. Berisik, bila tersinggung sedikit tak saling bertegur sapa, saban hari yang diomongin soal cinta, dan obrolan lain khas remaja. Fyuuh, saya mengelap jidat mengikuti mereka. Tetapi, bagaimanapun saya orang baru disana. Saya yang harus menyesuaikan dengan mereka. Dan saya turunkan ekspektasi saya, mencoba mengikuti pola pikir mereka, dan memahaminya sebagai sesuatu yang seru ketimbang menyebalkan.
            Iya, lama-lama ketika saya bisa menyelami mereka, saya tak lagi kesal. Bahkan kagum karena mereka itu pejuang. Ada yang terpaksa putus sekolah meski pintar, lalu bekerja di bengkel semata untuk membantu membiayai kedua orang tuanya. Ada yang harus menjahit sepulang sekolah agar dapur keluarga tetap tegak dan bea sekolah tetap terbayar. Lainnya bekerja membersihkan bawang putih atau bawang merah dari tangkainya atau prithil menurut istilah mereka demi uang yang tak seberapa. Tujuh kilo bawang putih atau bawang merah bersih dihargai Rp 200,00 kalau tidak salah. Jadi kau bisa hitung sendiri berapa kilo yang harus dibersihkan demi uang Rp 10.000,00.
            Sering setelah pulang mengaji saya jadi nangis sendiri.

BELAJAR ILMU KEHIDUPAN DARI GURU DAN TEMAN-TEMAN
            Mengaji memberikan saya tambahan ilmu yang banyak sekali. Fiqih, Ta’lim Muta’alim, dan lain-lain saya terima disana. Tetapi, ada ilmu lain yang tanpa saya sadari ikut terserap selama saya bergaul dengan guru saya dan teman-teman di Baitul Munir yaitu ilmu kehidupan.
            Mereka mengajarkan saya untuk mensyukuri keadaan. Anak-anak yang kebanyakan tak mampu itu mengajak saya melihat dunia dengan cara yang berbeda. Mereka memang miskin tapi bukan berarti miskin pula hatinya. Kerap saat yang satu mengalami kesulitan, semua berbondong-bondong membantu tanpa pikir panjang. Seperti hari itu waktu seorang anak di Baitul Munir kesulitan uang untuk bayar biaya sekolahnya, semua berkumpul dan urunan bersama. Padahal kalau dipikir yang lain itu hidupnya berat juga. Menurut logika ngapain sih pakai bantu lainnya kalau diri sendiri saja masih sengsara? Tapi, yang saya lihat berbeda. Anak-anak itu menyingkirkan egoisnya dan bersatu membantu teman yang kesulitan.

            Saya juga belajar untuk mempercayai apapun ketentuan Tuhan tanpa perlu mempertanyakan. Baik atau buruk dari Tuhan, pasti bukan sebuah ketentuan sembarangan. Tetapi, merupakan cara Tuhan menjadikan umat-Nya belajar. Tak ada yang serba kebetulan dari rencana-Nya. Seringkali rasanya teramat berat, bahkan tidak tertahan. Tetapi, dalam hidup mana sih yang tidak ada cobaan? Itulah yang saya baca dari sikap Pipin dan Na’am, dua orang teman mengaji saya, yang rumahnya saling berdekatan. Mereka memiliki nasib yang tak jauh berbeda. Tumbuh di keluarga miskin dan harus rela membanting tulang di usia yang sangat muda, mungkin 8-9 tahun. Hebatnya anak-anak ini tak pernah meminta. Prinsipnya jika masih bisa mengatasi sendiri kesulitan hidup mereka, mereka akan berjuang. Tak perlu menadahkan tangan. Saya tahu benar, karena saya pernah memberi yang dan ditolak dengan tegas.

            Disitu pula saya belajar agar tak putus harapan. Bahkan jika lewat kacamata awam kau tidak memiliki jalan keluar. Seperti yang dialami Pak Munir, guru mengaji saya. Pak Munir bukan orang kaya. Sebagai tukang las penghasilannya tak seberapa. Bahkan seringkali ia tidak mendapatkan uang karena tidak ada pelanggan datang. Maka membangun mushola yang baik jelas diluar kemampuannya. Cuma doa, tekad, dan usaha yang ia punya selebihnya Allah yang mengatur. Ia mengaku mendapat banyak bantuan selama mendirikan mushola itu. Kayu bekas-kayu bekas, batu bata, dan sebagainya datang dari anak murid dan orang-orang yang simpati pada perjuangannya.
            Saat mushola berdiri, tantangan tak berhenti. Muridnya yang awal-awal ramai belakangan surut. Bahkan menyisakan belasan saja di waktu saya datang menjadi muridnya. Sudah itu banyak yang kerap menunggak pembayaran, meski SPP-nya tak seberapa. Apa mau dikata? Anak-anak muridnya kebanyakan juga orang tidak punya. Pak Munir tak bisa memaksa. Ia sudah bersyukur masih ada yang mau mengaji padanya. Lalu bagaimana cara ia membayar listrik bagi musholanya bila banyak yang menunggak pembayaran? Ah, Tuhan itu ada saja caranya. Terkadang Allah mencukupkan rejekinya atau ada saja yang datang membayari listriknya.
            Apakah itu saja? Tidak. Masih banyak. Dan semua membekas baik di kepala saya. Yang pada akhirnya membuat saya bersyukur, hari itu saya tidak membatalkan keinginan saya mengaji.

 Tulisan ini diikutkan dalam Irawati Hamid First Giveaway “Momen yang Paling Berkesan & Tak Terlupakan” 







           

20 komentar:

  1. Subhanallah mak.... semangat yaa... sy jg 26 tahun lg belajar ngaji lagi... baca tajwid yg bener... di kantor tiap minggu ada guru ngaji khusus perempuan sekalian bahas hadits dll... ada loohhh yg umurnya sudah 40an... nggak ada kata terlambat mak... demi bekal akhirat... semangat yaa...

    Btw, Pas baca bagian remaja2 tangguh tadi jd merasa ketampar sy mak... sering ngeluh pdhl masih banyak di sekitar kita org yg sedang berjuang hidup tnp lelah...

    Btw, follow back yaa mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Mumu. Waduh, kita kalah jauh soal tangguh. Terima kasih sudah mampir

      Hapus
  2. Nikmatnya ya mbak kalau masih dikasih petunjuk Allah dengan jalan apa pun itu. senang bacanya, inspiratif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha iya, Mbak Wawa. Kadang cara Allah ngasih petunjuk emang gak terduga

      Hapus
  3. Gak ada kata terlambat untuk belajar dan kembali belajar. Apalagi ilmu agama. Alhamdulillah ya mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Mbak Haeriah, belaja ilmu agama tak ada kata terlambat. Tinggal mau atau enggak hihi...

      Hapus
  4. Saya juga pernah gerutu begitu waktu ada yg adzan ky gitu, tapi yaa iya sih dipikir lagi, susah juga kali ya sekarang nyari anak muda yg bisa dan mau adzan. Kalo liat yg jamaahan di masjid aja cuma sedikit, pemudanya mah huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha ya itu mbak, makanya hari itu saya merasa nggak enak sendiri. Kok nyalahin yang adzan nah pemudanya aja entah kemana, dan pemuda itu termasuk saya

      Hapus
  5. Sepakat sama mba Haeriah ga ada kata terlambat buat belajar :)

    BalasHapus
  6. Aku belajar ngaji 6-7 tahun tapi surat pendek gak banyak yg hafal, Mbak. Selama ini berasa cukup aja dengan ilmu yg pernah didapat. Ah, jadi pengen belajar ngaji lagi :'D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mangga, mangga...biasanya pas baru mulai agak gimana gitu tapi ntar oke aja...

      Hapus
  7. Hmmm.. Semangatnya Mbak Afin patut diacungkan jempol hehe.. Pengen ikut kayak Mbak..
    Melihat mereka, tangguh-tangguh yaa.. Jauh banget sama saya... Hmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, Mbak Gustia pasti bisa kok. Tinggal nyari tempat, nyari guru. Dan tentu disesuaikan dengan waktu.
      Ah, ya mereka tangguh banget, saya pikir kalau saya mereka pasti ndak sanggup

      Hapus
  8. ada loh teman saya yang gak mau shalat di masjid karena menurut teman saya tersebut bacaan imamnya gak sesuai tajwid-nya.

    sepakat sama semua yang Mba Afi tuliskan, tak ada kata terlambat untuk belajar. bukankah setiap hari kita memang belajar?

    terimakasih sudah berpartisipasi di GA saya yah Mba :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mbak Ira, terima kasih sudah mampir kemari

      Hapus
  9. Iya ya.. Semoga saya juga bisa..

    Hmmm.. Iya betul Mbak.. Bener-bener tangguh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin, insyaAllah bisa. Kadang jalannya suka tak terduga, gitu aja muncul. Barakallah Mbak Gustia

      Hapus
  10. Iya ya.. Semoga saya juga bisa..

    Hmmm.. Iya betul Mbak.. Bener-bener tangguh...

    BalasHapus
  11. Ah senangnya, memulai kembali yang lama terhenti, melanjutkan apa yang sudah nyaman di hati <3

    Salam,
    Senya

    BalasHapus