Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2009

SENAM KEBUGARAN

Peluh bermunculan seiring suhu tubuh yang meningkat dan gerak yang kian berat. Semakin lama tak semakin hilang, justru kian deras terpeta di punggung-punggung putih bersinar dan kulit pipi yang kemerahan. Nafas-nafas kian tersengal, tak berhenti mengikuti gerakan sang instruktur di depan. Sesekali tangan meraup wajah, menyeka peluh yang berleleran.

''Yaa!'' suara tawa terbang dari kanan depan, ketika ia lupa apa gerakan selanjutnya.

Suhu ruang kian meningkat, kelelahan mulai tampak. Dengus nafas terdengar dari segala arah, seiring waktu berjalan. Hosh, hosh...Lantai mulai berhias rintik keringat.
Sesi pertama selesai, dilanjutkan sesi kedua, body language.

'' Ambil nafas, tarik...lepas,'' seru sang instruktur memberi aba-aba sembari memberi contoh sikap tubuh yang benar. Keringat terus bermunculan, berkilau bak intan di kening dan kulit-kulit bening kaum perempuan.
Jam tujuh lewat lima, senam pun usai. Lihatlah wajah-wajah cerah itu, ayo mendekat kawan. Su…

MIRAGE MYSTERE

Mir.
Aku lebih suka kau memanggilku Mir, ketimbang Mirage nama asli pemberian ibuku.
''Namamu aneh.''
''Tidak lazim.''
''Seperti sebuah nama pesawat jet.''
Itu sebagian kecil komentar orang-orang ketika mengetahui kepanjangan Mir berasal dari kata Mirage.
''Mystere?'' Guru kelasku di SMP mengernyit membaca nama panjangku, Mirage Mystere.
''Ayahmu pasti berharap kau akan menjadi sosok yang luar biasa,'' seorang peramal disebuah pasar malam mengatakan itu diantara kartu-kartu tarot yang berserakan dihadapannya. ''Aku tidak mengharapkannya,'' sahutku jujur.
''Oh ya?''
Perempuan peramal bernama Dorinda (ah, kenapa namanya terdengar seperti tokoh telenovela jaman baheula?), menatapku dalam-dalam.
''Kenapa?'' tanyanya lembut, terdengar amat perhatian.
''Tak menyenangkan,'' jawabku.''Aku hanya ingin menjadi orang biasa,'' kataku penuh penekanan …

secangkir susu coklat pagi hari

Lezat nian menyesap susu coklat pagi-pagi, pikir sang nona sebelum akhirnya ia mengumpat karena kepanasan. Lidah yang terasa terbakar ia julurkan sambil kipas-kipas, meredakan.

Sekelumit tanya berpendar-pendar. '' Lha ya kalau ndak ada lidah apa bisa merasakan legitnya susu coklat? Tapi mana pernah kepikiran, paling juga lidah bergoyang untuk serangkaian serapah dan omongan ngelantur. Bukan bersyukur,'' sang hati kecil ngudarasa, mengutarakan apa yang ada dibenak.

Sang nona mengangguk sambil nyengir kuda. Merasa apa yang si hati katakan ada benarnya. ''Secangkir susu coklat pagi-pagi rupanya cara unik Tuhan mengingatkan agar manusia mensyukuri keadaan,'' gumamnya sembari menatap susu coklat yang telah tandas di dasar cangkirnya.

* subuh hari

KETIKA JENUH DATANG

Kehidupan itu seperti memintal benang. Bukan perkara gampang ketika mulai. Ada banyak proses sebelum jadi. Tak jarang benang yang dipintal tak sesuai harapan, harus memintal dari awal untuk mencapai yang diinginkan. Takut, gamang, tak percaya diri mewarnai. Menghambat proses pemintalan yang akan dimulai.

'' Kenapa sesulit ini hidup? Kenapa tak langsung saja Allah memberi yang kita pinta? Kenapa harus diberi cobaan?''
Tak jarang rasa itu memenuhi kepala. Sikap yang muncul mungkin pasrah, mengatakan pada diri untuk menerima peparinge Gusti tanpa bertanya lagi. Sedangkan lainnya percaya bahwa cobaan itu harus dihadapi dan singkirkan khawatir dalam diri. '' Kita bukan kelinci percobaan, nedha nrima dan pasrah apa adanya. Usaha dong, untuk apa kepala dicipta kalau tak mau berpikir ngudari kesulitan?'' seorang yang bijak berkata.

Terdengar tak nyaman mungkin bagi sebagian orang. Tapi jika direnungkan ada benarnya. Bayangkan tanpa cobaan kita takkan sekuat sekara…

Ketika cinta tak bersuara

Bisa kurasakan getir dikepalamu, sayang. Bukan karena aku cenayang, tapi hasil membaca segala kisah dan tanda yang kau suarkan. Jangan biarkan sayapmu menukik dihantam kerinduan, sayang. Tegakkan kepala, buang angan yang terlanjur mengawang. Boleh jadi cinta tak terbalas namun pijak kaki tak boleh lepas. Jepang, Jerman masih melambaikan tangan, kepadamu yang pernah bercerita ,"aku masih punya banyak cita-cita." Ayo, bangkitkan semangatmu, jangan biarkan rindu yang tak terbalas membuatmu hilang semangat. Seperti biasa, jika engkau berduka kau tahu kemana harus bercerita. Jangan khawatir nomerku masih tetap sama.


(buatnya di sudut jakarta, ayo tertawa! Haha)