Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

JANGAN COPY PASTE SEMBARANGAN, TAPI TEKAN TOMBOL SHARE ATAU TOMBOL BAGIKAN

Gambar
Belakangan kasus plagiarisme memang mencuat. Saya tak banyak berkomentar, karena kenyataannya saya masih harus memperbaiki soal penulisan dan bagaimana cara mencantumkan nara sumber yang benar. Tak jarang karena tulisan itu terlampau umum, kita menuliskan tanpa pikir panjang. Lalu mengunggahnya di media sosial, tanpa sekalipun terpikir menyebutkan nama penulisnya. Karena masalah inilah saya berpikir ulang sebelum ikut-ikut “nyinyir melambai” di berbagai sosial media. 
Lho kenapa kok saya berpikir demikian?
Sederhana saja, tak jarang sayaberpikir yang saya lakukan sudah lurus dan benar. Padahal saat ditelisik dan di runut sampai ke belakang, eh ternyata saya pernah melakukannya. Hanya saja kita lupa, tidak sadar, atau malah tak ketahuan.
Lalu bagaimana cara kita berkontribusi melawan plagiarisme?
Tidak perlu muluk-muluk, mulai saja dari diri sendiri dengan tidak meng-copy paste sembarangan tulisan yang tersebar di media sosial. Jika menemukan tulisan yang bagus tekan saja tombol share atau…

JARANG MENJAWAB PESAN, TANDA TEMAN TAK PERHATIAN?

Gambar
Beberapa kali saya ngobrol dengan teman, soal kekecewaan mereka pada teman lain yang susah sekali menjawab sapaan mereka via BBM, Line, WA atau sosial media. Kalaupun dijawab biasanya lama. “Jadi malas deh berteman dengannya. Masa iya balas pesan gitu aja nggak bisa. Emang sesibuk apa sih hidupnya? Lha wong aku yang sibuk ono, ini, anu, itu aja masih bisa kok balas chat di BBM atau WA.”
Saya memahaminya kekecewaannya. Saya pun pernah berpikir sama. Seorang teman yang tak membalas berarti tak lagi perhatian sama kita. Dan itu menjengkelkan saya. Saya jadi berburuk sangka padanya. Saya berpikir ia sudah tak ingat lagi pada saya. Padahal dulu semasa lajang, segala hal dilakukan dengan saya. Bahkan curhat masalahnya pun ke saya. Sekarang jangankan “say hi”, ketemu saja sulitnya minta ampun. Teman macam apa itu?
Tetapi pemikiran itu berubah ketika bertandang ke rumah seorang teman lainnya. Saya melihat bagaimana kesibukannya sebagai ibu rumah tangga yang harus menjaga anak, sambil menyetrika,…

PESAN MAMA MUDA UNTUK SINGLE FIGHTER SEPERTI SAYA: JANGAN NYEKOLAHIN ANAK KARENA GENGSI SEMATA

Gambar
Sebagai mama muda Liv (bukan nama sebenarnya), menginginkan yang terbaik untuk anak. Karena itu saat mertua menyarankan agar anak sekolah di dekat rumahnya saja, ia menolak. Liv beranggapan sekolah di desa tidak cukup baik untuk putri pertamanya. Ia ingin dia mengenyam pendidikan di sekolah terbaik. Kebetulan di kecamatan tempat dia tinggal merupakan gudang sekolah terbaik. Dari TK, SD, SMP sampai SMA semua ada. Jadi ia tidak perlu khawatir soal pendidikannya.
Karena itu begitu putri pertamanya usia lima tahun ia masukkan ke sebuah TK favorit. Meski biaya pendaftaran mahal tak apa, yang penting baik bagi putrinya. Begitu juga SD-nya. Ia bahkan rela membayar agar sang putri bisa masuk SD idaman sejuta umat itu. Tapi, apa lacur yang terjadi kemudian justru bikin Liv merasa stress sendiri. Putrinya, sebut saja Nana, enggan sekolah. Setiap hari ia harus berperang dengan putrinya, hanya agar si putri mau berangkat sekolah. Sepertinya sekolah adalah momok menakutkan bagi Nana. 
Belakangan …