Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2012

PAHLAWAN TAK KELIHATAN

Gambar
Berperawakan kecil dengan rambut ikal beruban pria itu setia dengan pekerjaan yang dilakoninya sejak muda, membuka bengkel las di dekat pasar Genteng Wetan. Tempatnya tidaklah besar. Hanya sebuah tempat dari triplek berukuran 2x3 meter yang berdiri tepat diatas sungai. Sama sekali tidak kokoh, hingga bila diisi lebih dari tiga orang akan terdengar bunyi kemeretak dari lantainya yang terbuat dari papan bekas.             Siang hari selepas ashar ia akan pergi mengurusi kambing-kambingnya yang ia kandangkan sekitar setengah kilo dari tempatnya tinggal. Di tempat itu kambingnya di kandangkan di seberang musholla yang ia dirikan. Musholla terbuka tempat anak-anak mendulang ilmu agama. Tak jauh dari musholla Baitul Munir II sebuah jembatan melintang di atas suangai. Melalui jembatan itulah beliau setiap hari mencari pakar ternaknya dengan menyabit  rumput di sisi-sisi pematang.             Sore hari, selepas maghrib ia akan bersiap mengajar ngaji di Baitul Munir I. Sementar

CANTIK ITU (NGGAK) SERAGAM

Gambar
Satu hari di salon…. “Mbak potong rambut?” Ya iyalah, masa potong kambing. Kalo potong kambing nggak disini kali, batin saya sambil ngangguk. “Nah sini dulu, dicuci dulu (rambutnya ya bukan orangnya),” kata si mbak kapster sambil nunjuk ke kursi   item yang ada kobokannya (yang sering nyalon pasti paham, kalo gak paham nanya aja ke mbah google yah hehehe). Saya manut aja. Pasrah pokoknya meski rambut saya diucek-ucek seenak udelnya. Asal gak udel saya aja. Bisa repot kalo gitu. Ya nggak sih? Abis rambutnya dicuci saya digiring ke kursi listrik…sorry, kursi cukur. Apa sih namanya yang enak? Kursi itulah pokoknya, dimana kita disuruh diem dan dipakain celemek kayak bayi. Cuma fungsinya buat nadahin rambut bukannya iler. Srat, sret…rambut dibabat sesuai keinginan. Begitu selesai rambut dikeringin pake hair dryer. Abis itu disuruh ngaca. Jiaelaaah kecenya sayaah *sambil kedip-kedip. Sumpe belum pernah ada loh pelanggan sekece itu (mbak kapster semaput hahahah). Nah

KEMARIN PAGI AKU BERTEMU-NYA

Gambar
Kemarin pagi aku bertemu-Nya Di tanah lapang penuh gulma dan tumbuhan liar Ia menunjuk seekor kumbang coccinella dan bertanya ,”Apakah kau bisa melukis totol-totol ditubuhnya?” Wah, aku garuk-garuk kepala aku ditantang membuat maha karya serupa Sebentar, andai aku bisa melakukannya Lukisanku takkan tertanam dalam gen-nya Ketika sang induk mati, anak keturunannya tetap polos warnanya Tiada totol-totol diatasnya Tuhan berbisik di telinga “Kau mau tahu bagaimana aku melakukannya?” “Jadilah, maka jadilah! Hanya itu yang perlu kulakukan,” katanya tenang Jadi apa masih ada yang mau menantang? pic location : tanah lapang dekat rumah

Gift From Mr.Kim, Aida MA

Gambar
Mr Kim adalah  pria setinggi 175cm, atletis dan gembira. Kulitnya cenderung lebih gelap dari orang korea kebanyakan, karena kesukaannya berpetualang di alam. Hidungnya sedikit bengkok karena patah saat berkelahi di masa muda. Matanya dalam, memancar tajam penuh kecerdasan. Ia pria yang hangat, teman yang enak diajak berbincang, kecuali saat ia tengah asyik dengan buku dan alat pancingnya. Ia tak suka diganggu saat-saat itu. Ia selalu menelengkan kepala dan alisnya akan meninggi sebelah bila tidak suka. Menggosok-gosokkan tangan saat ia tidak tenang atau ada persoalan. Ia menikah dengan seorang perempuan mungil yang melahirkan dua putra baginya. Istrinya itu seorang yang cerewet tapi baik. Sering kali ia memarahi dua putranya yang tengah malas belajar sambil membersihkan ruang atau halaman. Ia tidak berhenti sampai mereka melakukannya. Ia mudah menangis, melihat burung terluka saja tangisnya bisa berderai-derai. Jika sudah begini Mr. Kim akan sibuk menghiburnya. Ia d