Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

MOON OVER MY OBSCURE LITTLE TOWN

Stranger Stranger Someone stranger Standing in a mirror I can't believe what I see How much love has been taken away from me My heart cries out loud Everytime I feel lonely in the crowd Getting you out of mu mind Like separating the wind from the cloud Afraid Afraid I'am so afraid of losing someone I never have Crazy, oh, crazy Finding reasons for my jealousy All I can remember When you left me alone Under the moon over my obscure little town As long as I can remember Love has turned to be as cold as December The moon over my obscure little town The moon over my obscure little town taken from Dwilogi Padang Bulan, page 198-199

MAHAR

Gambar
Dari Malang Nurdin datang. Melamar Nur, sang pujaan. Langsung tercengang mendengar tebusan yang harus dibayar. Pengganti biaya segala macam, dari Nur kecil hingga sekarang. Mahal, batinnya sambil memandang Bapak Nur gamang. “ Sudah adatnya. Jika tak terpenuhi, kau tak bisa menikahinya.” Nurdin menelan ludah, melirik Nur yang juga gundah. Sisakan gelisah di muka calon mertua—bisakah ia memenuhi pintanya. Sesaat lamanya sepi mengambang. Baru pecah ketika Nurdin berucap lantang ,” Baiklah, mahar akan saya lunasi 6 bulan kemudian.” Nur lega, begitu pun calon mertuanya. Enam bulan berselang, Nurdin datang memenuhi perjanjian. Pesta pun segera digelar. Meriuhkan desa kecil tempat mempelainya tinggal. “ Dengar-dengar suami Nur kaya,” bisik seorang tamu di tengah pesta. “ Katanya ia pengusaha sukses di Batam sana.” “ Wah, mujur benar mertuanya ,” cetus lainnya, membuat Bapak Nur diam-diam menepuk dada. Tak pelak senyumnya terkembang kemana-mana hingga dua orang tamu tiba dan menunjukkan

MENCARIKU

Tanyamu : Dimana mencari-Ku? Sedang aku di dekatmu Memanggil lima kali dalam sehari semalammu Mengirimkan 114 email yang tak pernah kau baca itu Menyuruh iqro pada semesta milikku Tapi kau masih bertanya : Dimana mencari-Ku