Postingan

Menampilkan postingan dengan label Question Of Life : Apakah Pendek Dan Berwajah Biasa itu Menyakitkan?

Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

QUESTION OF LIFE : APAKAH PENDEK DAN BERWAJAH BIASA ITU MENYAKITKAN?

Gambar
(Source : Sheila books)
Badan boleh pendek, tapi percaya diri jangan sampai sependek badan ini. Tinggi boleh kurang, tapi kita tak boleh kurang keistimewaan. Kebaikan hati dan senyum tulus dalam diri kalian sering kali menutup segala jenis kekurangan.”
Itulah kalimat tertulis di lembar terima kasih yang tertera dalam novel“Short Story Girl : Pendek Itu Menyakitkan?” yang terbit November lalu. Ih gaya banget ya, sok pake nulis kayak gitu segala. Tapi bukan tanpa alasan saya mengatakannya. Saya berharap siapapun yang tinggi badannya aduhai semampai kayak saya berhenti membenci kekurangannya. Malahan mereka harus berbahagia dengannya. Kenapa? Mari kita mulai saja ceritanya. Saya terlahir sempurna, tidak kurang suatu apa. Kecuali dua, tinggi dan muka biasa saja. Saya bersyukur otak saya tidak bebal-bebal amat, sehingga saya bisa menyelesaikan sekolah dengan nilai yang cukupan. Pokoknya nggak memalukan kalau dipamerin di meja makan (lha itu apaan? Taplaknya apa sendoknya hahaha). 
Back to the…