Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

My 2018 Best Moment : Menjadi Relawan Sekaligus Menyaksikan Orang-Orang Berduyun-Duyun Datang Ke Alas Malang Demi Kemanusiaan

Gambar
Saya sudah duduk cukup lama di komputer, sudah pula menemukan foto-foto yang menunjukkan momen-moment terbaik dalam hidup saya. Sesuatu yang siap diceritakan pada dunia. Tetapi, sebelum mulai menulis kisahnya, mata saya terpancang pada folder bernama "Banjir Bandang Alas Malang".
Saya ingat hari itu tanggal 22 Juni 2016, saya sedang ngobrol di kafe bareng teman-teman SMA ketika berita tentang banjir bandang di Alas Malang itu datang. Diikuti sederetan video yang menunjukkan betapa dahsyat banjir yang melanda desa tersebut. Bukan kali pertama Alas Malang diterjang banjir. Bulan sebelumnya, Alas Malang dibanjiri lumpur luapan Kali Badeng. Tidak disangka, baru saja sisa-sisa banjirnya dibereskan, banjir yang lebih besar tiba. Kurang lebih 300 rumah terdampak karenanya. 


 Sabtu pagi, saya tiba di Posko Penangan Banjir Alas Malang, mengikuti himbauan untuk ikut kerja bakti bersih-bersih sisa banjir bandang yang saya baca di dinding Mbak Ira, salah satu wartawan Kompas yang terjun j…

Kerja Sama Ayah dan Ibu Berperan Penting Menyukseskan Pencegahan Stunting

Gambar

TRADISI SUROAN DI KOTA SERIBU FESTIVAL BANYUWANGI

Gambar
Suroan memang memiliki cerita sendiri bagi saya. Sewaktu kecil, setiap tanggal 1 Suro tiba biasanya orang-orang sibuk membuat jenang. Lantas menghantarkannya ke tetangga, termasuk di dalamnya keluarga saya. Jadi bisa dibayangkan jika ada 30 orang tetangga dekat. Berarti yang harus disiapkan adalah tiga puluh piring. Umumnya jenang suro terbuat dari beras yang diolah bersama santan yang ditambahkansalam, serai, dan garam. Lantas disajikan dengan perkedel, telur dadar, kering tempe (orang kerap menyebut orek tempe), kacang bawang, dan ayam. Jika tidak ada ayam, semua lauk yang tersebut sebelumnya pun sudah cukup. Satu hal yang tak boleh dilupakan adalah siraman kuah kare yang kental. Sewaktu dinikmati nuansa gurih dan lembut akan mendominasi. Ditambah kering tempe yang pedas manis, dadar telur, kacang bawang, perkedel serta ayam berbalut bumbu kare, aduuh sedap nian! Tahun berlalu ajang silaturahmi semacam ini tak sehebat dulu lagi.Saling hantar jenang suro kepada saudara dan handai tolan…

TAK TERLUPAKAN : NEKAT NYEMPIL DI POJOKAN HINGGA DUDUK DI KURSI UNDANGAN DEMI GREBEG SUROAN

Gambar
Hari sedang panas-panasnya ketika saya berangkat ke Pekulo dalam rangka menonton grebeg suro, Senin (10/9/2016). Itu pun masih ada drama ketinggal ponsel pula. Padahal waktu itu sudah jauh dari rumah dan jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat. Beruntung acara ternyata belum dimulai, dari jadwal pukul 12.00 ternyata mundur sekitar sejaman. Syukurlah pikir saya. Sampai ternyata tempat acara sudah dipenuhi orang. Sudah susah mencari tempat motret yang menyenangkan. Satu-satunya tempat yang tersisa adalah di masuk ke dalam, di sudut kanan, tepat di samping pintu masuk. Di tempat itu saya melihat ada beberapa orang sudah bersiap dengan senjata laras panjang, bukan buat menembak, tapi buat motret. Iya, kamera maksudnya, yang lengkap dengan lensa telenya pula. Saya memutuskan untuk nyelip masuk, sebelum Wakil Bupati tiba dan acara dimulai. Lantas bergabung orang-orang dari media di sana. Peduli amat, meski saya bukan bagian dari mereka, yang penting bisa dapat tempat untuk motret. Ternyat…

DRUMBAND LANSIA DARI LALANGAN, TAMPIL ATRAKTIF DI ACARA SUROAN

Gambar
Hari sudah sore waktu terdengar suara drumband dari luar tempat pagelaran suroan dihelat. Saya mengernyitkan kening keheranan. Drumband mana lagi yang hadir sekarang? Bukannya kirab suroan di desa Temuguruh baru saja kelar? Kok masih ada drumband lagi di luar. Karena tempatnya terhalang oleh tembok-tembok tinggi, maka saya tidak bisa melihat drumband siapa itu. Begitu muncul saya melihat sederet emak-emak denganmake up lengkap, menggerak-gerakkan tangan diikuti sederet barisan penabuh alat musik seperti snare drum, bass, dan lainnya.
Lhadalah drumband itu ternyata masuk ke PUSKUD, tempat digelarnya acara suroan di desa Temuguruh, Sempu. Saya langsung tersenyum melihat atraksi para pemain drumband yang rata-rata usianya sudah lansia. Gitapati dan mayoretnya tak kalah gaya. Wuuh, tak mau kalah dengan gitapati atau mayoret dari SMA. Ada yang memakai baju terusan, ada pula yang berkebaya lengkap dengan jariknya. Yang tidak kalah aksi itu alas kakinya. Wahahaha, emak-emak gitapati dan mayor…