Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

My 2018 Best Moment : Menjadi Relawan Sekaligus Menyaksikan Orang-Orang Berduyun-Duyun Datang Ke Alas Malang Demi Kemanusiaan

Gambar
Saya sudah duduk cukup lama di komputer, sudah pula menemukan foto-foto yang menunjukkan momen-moment terbaik dalam hidup saya. Sesuatu yang siap diceritakan pada dunia. Tetapi, sebelum mulai menulis kisahnya, mata saya terpancang pada   folder bernama "Banjir Bandang Alas Malang". Saya ingat hari itu tanggal 22 Juni 2016, saya sedang ngobrol di kafe bareng teman-teman SMA ketika berita tentang banjir bandang di Alas Malang itu datang. Diikuti sederetan video yang menunjukkan betapa dahsyat banjir yang melanda desa tersebut. Bukan kali pertama Alas Malang diterjang banjir. Bulan sebelumnya, Alas Malang dibanjiri lumpur   luapan Kali Badeng. Tidak disangka, baru saja sisa-sisa banjirnya dibereskan, banjir yang lebih besar tiba. Kurang lebih 300 rumah terdampak karenanya.  Briefing sebelum berangkat ke area yang terdampak banjir bandang.  Sabtu pagi, saya tiba di Posko Penangan Banjir Alas Malang, mengikuti himbauan untuk ikut kerja bakti bersih-ber

Kerja Sama Ayah dan Ibu Berperan Penting Menyukseskan Pencegahan Stunting

Gambar
 Menjalani kehidupan sebagai orang tua baru merupakan tantangan tersendiri bagi pasangan muda—Wawan dan Elok—yang menikah Juli tahun lalu. Hal tersebut dimulai ketika Elok dinyatakan hamil anak pertama. Meski sudah memiliki gambaran sebelumnya, ternyata kehamilan pertama ini tidak semudah yang disangka. Trimester awal adalah masa terberat baginya. Tidak hanya mual dan muntah, Elok juga harus bed rest karena kandungannya lemah. “Sebelum tahu hamil, saya baik-baik saja. Tapi, ketika tahu hamil wuu ... itu makanan jarang ada yang masuk dalam perut ya ternyata. Banyak sekali yang keluar,”   kenangnya jenaka. Bila menuruti egoisme semata, ia akan mengikuti apa kata tubuhnya, menolak setiap makanan yang masuk lewat mulut. Toh, setiap kali makanan masuk akhirnya dimuntahkan juga. Namun Elok tak menyerah. Sebisa mungkin ia menjaga nutrisi bagi si bayi walau dalam keadaan payah. Hal itu dilakukan bukan tanpa sebab. Ia ingin bayinya sehat, tidak mengalami stunting (pendek/kekerdilan).

TRADISI SUROAN DI KOTA SERIBU FESTIVAL BANYUWANGI

Gambar
Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko, turut memanggul tumpeng dari buah dan sayur-mayur                Suroan memang memiliki cerita sendiri bagi saya. Sewaktu kecil, setiap tanggal 1 Suro tiba biasanya orang-orang sibuk membuat jenang. Lantas menghantarkannya ke tetangga, termasuk di dalamnya keluarga saya. Jadi bisa dibayangkan jika ada 30 orang tetangga dekat. Berarti yang harus disiapkan adalah tiga puluh piring.               Umumnya jenang suro terbuat dari beras yang diolah bersama santan yang ditambahkan   salam, serai, dan garam. Lantas disajikan dengan perkedel, telur dadar, kering tempe (orang kerap menyebut orek tempe), kacang bawang, dan ayam. Jika tidak ada ayam, semua lauk yang tersebut sebelumnya pun sudah cukup. Satu hal yang tak boleh dilupakan adalah siraman kuah kare yang kental. Sewaktu dinikmati nuansa gurih dan lembut akan mendominasi. Ditambah kering tempe yang pedas manis, dadar telur, kacang bawang, perkedel serta ayam berbalut bumbu kare, ad

TAK TERLUPAKAN : NEKAT NYEMPIL DI POJOKAN HINGGA DUDUK DI KURSI UNDANGAN DEMI GREBEG SUROAN

Gambar
            Hari sedang panas-panasnya ketika saya berangkat ke Pekulo dalam rangka menonton grebeg suro, Senin (10/9/2016). Itu pun masih ada drama ketinggal ponsel pula. Padahal waktu itu sudah jauh dari rumah dan jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat. Beruntung acara ternyata belum dimulai, dari jadwal pukul 12.00 ternyata mundur sekitar sejaman. Syukurlah pikir saya.             Sampai ternyata tempat acara sudah dipenuhi orang. Sudah susah mencari tempat motret yang menyenangkan. Satu-satunya tempat yang tersisa adalah di masuk ke dalam, di sudut kanan, tepat di samping pintu masuk. Di tempat itu saya melihat ada beberapa orang sudah bersiap dengan senjata laras panjang, bukan buat menembak, tapi buat motret. Iya, kamera maksudnya, yang lengkap dengan lensa telenya pula. Saya memutuskan untuk nyelip masuk, sebelum Wakil Bupati tiba dan acara dimulai. Lantas bergabung orang-orang dari media di sana. Peduli amat, meski saya bukan bagian dari mereka, yang penting bis

DRUMBAND LANSIA DARI LALANGAN, TAMPIL ATRAKTIF DI ACARA SUROAN

Gambar
Hari sudah sore waktu terdengar suara drumband dari luar tempat pagelaran suroan dihelat. Saya mengernyitkan kening keheranan. Drumband mana lagi yang hadir sekarang? Bukannya kirab suroan di desa Temuguruh baru saja kelar? Kok masih ada drumband lagi di luar. Karena tempatnya terhalang oleh tembok-tembok tinggi, maka saya tidak bisa melihat drumband siapa itu. Begitu muncul saya melihat sederet emak-emak dengan   make up lengkap, menggerak-gerakkan tangan diikuti sederet barisan penabuh alat musik seperti snare drum, bass, dan lainnya. Lhadalah drumband itu ternyata masuk ke PUSKUD, tempat digelarnya acara suroan di desa Temuguruh, Sempu. Saya langsung tersenyum melihat atraksi para pemain drumband yang rata-rata usianya sudah lansia. Gitapati dan mayoretnya tak kalah gaya. Wuuh, tak mau kalah dengan gitapati atau mayoret dari SMA. Ada yang memakai baju terusan, ada pula yang berkebaya lengkap dengan jariknya. Yang tidak kalah aksi itu alas kakinya. Wahahaha, emak-emak gitapati