Postingan

Menampilkan postingan dengan label pelatihan menulis

Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

Pertama Kali Menjadi Pemateri Saya Justru Membawa Pulang Pelajaran Penting Ini

Gambar
Saya mengiyakan saja ketika dimintai bantuan jadi pemateri workshop menulis yang diadakan oleh teman-teman KKN 13 Untag di base camp RLI (Rumah Literasi Indonesia sepekan silam. Permintaannya adalah lebih banyak praktek ketimbang materi yang disampaikan. Sepekan sebelum hari H saya mulai mikir, lha kok saya oka-oke saja. Apa yang harus saya sampaikan nanti di depan peserta? Anggaplah yang datang nanti sedikit, sepuluh orang misalnya, saya tak boleh sembarangan. Harus membagikan sesuatu yang bermanfaat ketika pulang. Bukan sekedar ngobos (ngomong ngalor ngidul), nggak ada juntrungan. Tidak lupa juga si materi harus punya relasi dengan praktek yang hendak dilakukan. Tapi, apa ya?
Setelah mencari tahu soal audiens yang hadir nanti akhirnya saya memilih materi bagaimana cara menulis bagi pemula saja. Kalaupun diantara audiens sudah ada yang terbiasa nulis, apa yang saya bagikan nanti bisa digunakan juga saat mereka terkena writer's block. Sampai di sini masalah teratasi. Namun menjelan…

CERITA SEDIKIT DARI ROOM TO READ

Gambar
Aplikasi workshop menulis Room to ReadPhase 2 Cycle 3 Desember ini sudah dibuka. Saya yakin banyak penulis yang ingin masuk ke dalamnya. Tetapi, bagaimana sih sebenarnya workshop Room to Read itu? Benarkah pelatihan menulis ini menakutkan? Yang masuk hanya penulis terkenal dan berpengalaman? Mau tahu jawabanya, nih cerita saya... Saya sedikit sangsi sebelum mengirimkan aplikasi ke Room to Read Juli lalu. Bukan apa-apa, saya mendengar kalau yang lolos seleksi di pelatihan ini kebanyakan sudah berpengalaman semua. Sementara saya tidak memiliki pengalaman cukup di bidang penulisan cerita anak. Boleh dikatakan saya baru saja belajar. Karena baru itu belum ada tulisan saya yang lolos media nasional. Bobo belum terdengar, Nusantara Bertutur sama saja, begitu juga yang lain-lain. Kalaupun ada, hanyabeberapa di majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya, serta beberapa buah antologi. Jadi, bisa dikatakan mengirim aplikasi ke Room to Read itu bikin saya gamang. Satu hal kemudian menyadarkan saya, kenapa …

GURU TERBAIK BERNAMA PEMATERI YANG MEMBOSANKAN

Gambar
Suatu hari di sebuah pelatihan menulis yang diadakan Bekraf...
Beberapa orang keluar dan tidak kembali. Yang lain terkantuk-kantuk dan mulai sibuk corat-coret buku catatannya sendiri-sendiri. Saya sendiri tak kalah sibuk, sibuk berangan-angan sambil nengok kiri-kanan. Beberapa orang nampak tidak sabar. Berkata lirih dengan teman sebelah soal topik yang diulang-ulang dari awal sang pemateri memberi paparan soal novelisasi film.

Saat istirahat saya sempat berkata pada teman, pemateri kedua ini njomplang dibanding pemateri lainnya. Dari sisi literasi kurang, komunikasi apalagi, penguasaan medan tak bisa dibahas. Aduh Mak...pelatihan menulis yang diadakan sebuah badan pemerintahan itu jadi sia-sia saja kesannya karena membawa pemateri yang salah. Ia bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan dengan taktis, terasa nggrambyang, dan terkadang tidak nyambung babar blas. Rasa-rasanya tidur jauh lebih baik daripada bertahan di ruangan.
Tapi, beberapa waktu kemudian saya tersadar. Okelah dia tak be…