Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

Unggahan Terbaru

MENGINTIP BERANDA FACEBOOK-MU

Sebuah bayangan berhenti di sudut. Diam memperhatikan perempuan yang kepalanya terkulai di depan laptop.
Setengah berbisik ia berkata,
"Mengintip berandamu facebook-mu, selalu kubaca kerinduanmu di tiap lekat katamu. Untukku. Selalu.
Terharu. Tapi tak bisa menjangkaumu.
Hanya kurasa aku akan menjagamu dari jauh. Dan bukan memerangkapmu untuk bersetia padaku. Aku lepaskan kau dengan segenap hatiku jika memang ada seorang yang bisa menjagamu.
Bukan, bukan karena tak cinta kamu. Justru kukatakan itu karena aku amat mencintaimu. Aku tak ingin kau sendiri menyusur lingkar jalan hidup ini.Aku tahu kamu teramat kuat. Amat sangat kuat. Setiap lekuk jalan sanggup kau lewati.
Tapi bagaimanapun juga berdua itu lebih baik ketimbang sendirian memikul beban dipundak, tak berkawan.
Menikahlah saja. Sungguh aku tak apa. Sudah cukup kurasa pengabdian dan cintamu selama kita bersama. Kini carilah bahagiamu sendiri. Jangan terpaku pada bayangku.
Aku tak ada lagi disisimu.
Aku kini berada disisi Tuhanmu…

SATU KETIKA DI TENGAH MALAM

Aku bertandang tengah malam ke rumah mayamu, Tuan. Menikmati anggun ruang tamumu, lalu beranjak ke galeri, menikmati foto-foto jepretanmu. Pada pohon, matahari, bunga, dan hujan pagi hari kutemukan sebuah kecintaan. Kususuri tiap detilnya dengan jemari, ringan.
Berharap bisa berlarian di padang yang kau abadikan. Riang, barangkali denganmu di tengah hujan.
Beranjak ke dalam, kupandangi perempuan-perempuan tertawa segar. Ranum bibirnya menggiurkan. Belah dadanya mengintip, mengundang mata melirik lebih dalam. Sejuring pipinya menggemaskan.
Secara keseluruhan dalam kalimat singkat kulukiskan sebagai M-E-N-A-N-T-A-N-G!
Aku terpesona, Tuan. Padahal aku perempuan. Bukan karena rasa tertarik yag berlebihan, tapi khayal menjulang andai aku sepertinya. Kurasa aku-lah yang jadi obyekmu sejak mula.
Tapi sebentuk hati perempuan ini bertanya, harus begitukah melukis perempuan. Seandainya ia putriku apa yang hendak kukatakan? Apakah akan kupasung dia dan takkan boleh mendekatmu agar …

NAIF (MASIH PERAWAN)

Mereka bilang saya naïf, Tuan. Soalnya saya enggak ngerti cara make pil KB meski udah besar. Bukan cuma besar ibarat buah sudah matang. Tapi memang begitu, Tuan. Buat apaan, wong saya belum memerlukan.

“Ah, dasar kampungan. Ini udah biasa. Masa kamu enggak tahu gimana cara makenya.”

“Enggak,” kata saya sambil memandang heran pil KB yang berserakan dari tas teman saya.

“Kenapa sih ngeliatin terus. Biasa lagi, Coy!” katanya ringan.

Saya nyengir kuda. Pikiran saya udah kemana-mana.

“Udah jangan diliatin terus itu pil. Doi gak takut kau pelototi. Udah umum kok kita make ini,” sahutnya lagi sambil make lipstick di bibir dowernya.

Ya umum, buat perempuan yang berlabel istri. Lha kalau buat yang masih lajang layak aku dan kamu apa ya umum? Batin saya sambil ngeloyor balik kandang

Besoknya ada lagi kejadian yang lebih mengagetkan lagi, Tuan. Seorang pria mengajak “serius” dengan saya. Tahu kan artinya. Ya, dia nga…

TERIMA KASIH TUHAN

Gambar
Seperti biasa alarm tubuh saya berdentang jam 2 malam. Bergegas saya ke belakang, mengambil wudhu lalu pergi ke pesholatan, satu ruang kecil di sebelah ruang teve yang kami gunakan untuk sembahyang. Dari jendela ruang itu saya melihat keluar. Suasana terasa lengang. Tak terdengar apapun kecuali sayup suara orang nderes Al Qur’an dari arah selatan. Entah darimana tepatnya, bisa jadi dari masjid atau suaru dekat situ.

Sedang apa ya orang-orang jam segini? Apa mereka juga gentayangan seperti saya atau justru sedang asyik terlelap di buai mimpi?

Saya berhenti menatap keluar. Saya kenakan mukena lalu sholat isya’ yang tak sempat saya lakukan sebelumnya karena terlampau kelelahan.
Usai itu saya segera ke belakang. Menyeduh teh hangat tanpa gula dan menggodok telur untuk sahur malam ini.
Senyampang menunggu telur matang, saya kembali menghadap komputer yang telah saya nyalakan. Menekuri dunia kata yang akhir-akhir ini jadi kegemaran. Baru setengahnya saya diingatkan tentang telur yang saya…