Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2009

Unggahan Terbaru

MENU AKHIR TAHUN

Tanggal 31 desember, jam 4 lewat banyak tapi masih ngadep kompi nungguin proses akhir tahun. Weh bakal ngakar neh, ada yang mo nemenin gak? Jangan kaget kalo ada bau kecut-kecut seger. Itu akyu! Hehehe, bis gimana lagee...gak mungkin dunk ada mahkluk manis bau melati jam segini? Selain blum mandi, yang jenis itu pada ribut dandan buat nanti, tahun baru. Bukan buat gaet cem-ceman tapi bikin kaget orang dengan ringkik tawa yang menyeramkan.

Nah lho, kok kata proses akhir taun selesai blum muncul. Padahal udah seratus persen! Hik, mana blum setting pekan, bulan, hari kerja, promo. Mpe jam berapa kita kencan kompie sayang? Gag liat apa muka sepet kaya orang gagal buang hajat ini? Come on!

Jadi mules kalo genee! Sholat aja dah, darìpada empet prosesnya blum selesai-selesai.
Hya! Tulisan 'SELESAI PROSES AKHIR TAHUN' muncul juga. Alhamdulillah...artinya proses lain masih menunggu, Nona! Jangan khawatir masih banyak. Ada yang Mau bantu gag ya? Hehehe

SLOGAN SAKTI IBUKU : MARI BERHEMAT, MARI MENABUNG

Gambar
Ibu saya tergolong ibu yang tak pernah memanjakan anak-anaknya. Sejak kecil kami dibiasakan jajan secukupnya saja. Bahkan cenderung lebih kecil dibanding kawan-kawan sebaya. Tetapi anehnya di rumah selalu tersedia apa yang kami inginkan , entah dengan membuat sendiri atau justru membelinya dari pasar. Ketika ditanya ibu menjawab pertama ibu ingin mengajari kami untuk hemat dalam menggunakan uang dan kedua ibu tak suka melihat kami jajan di luar. Ketiga demi kebersamaan. Kok bisa? Ya sebab menurut ibu dengan cara semua anggota keluarga bisa menikmati apa yang menjadi kesukaan kami. Hal lain yang sering didengungkan selain hidup hemat adalah slogan “ MARI MENABUNG!” yang kedengarannya menyebalkan. Coba bayangkan, dengan uang saku yang kecil bagaimana bisa menabung? Gerutu kami dalam hati. Tetapi ibu tak pernah berhenti mengatakan kepada kami agar kami rajin menabung. Katanya ini kelak bagi kami di kemudian hari.
Ibu saya juga tak pernah membedakan anak laki-laki dan perempuannya u…

I WISH I WAS HER

Hahahaha…Semua langsung tergelak mendengar ucapan Ustadz Munir kalau cantik dan ganteng itu bedanya hanya dari leher ke atas. Selebihnya baru diperhatikan kemudian. Betapa bangganya kita karena sebuah penampakan (means wajah) banyak yang mengagumi, ya nggak? Bahkan seorang teman yang merasa dirinya super biasa sampai berkata dengan muka masygul pada saya,” Ya kamu beruntung, kamu lebih putih, lebih cantik, aku?!”
Lho? Sejak kapan Afin tergolong cantik dan putih? Kaca…mana kaca? Please deh ah, mumpung ada yang memuji niiih. Dengan semangat saya mengaca, dan blup…saya pikir saya akan mendapati serauh wajah se-aduhai Tamara Blesz, enggak tuh. Teteup wajah biasa yang saya kenali, yang alhamdulillah tidak ruaar biasa (hehehehehe).

Ya, ya saya paham perasaan teman saya itu. Sejak kecil saya dikelilingi teman-teman dekat yang cukup popular karena kecantikan dan kecerdasannya. Wajar jika bersama mereka dirimu tak terlihat atau istilah perdukunannya sih auranya tenggelam. Jadi jika luput dari pe…

MUSASHI

Aku bertemu dengannya saat aku masih bocah. Kala itu usiaku baru mencapai angka 12, dan ia sudah dewasa. Ia pria yang tinggi, tegap, dan liat, amat menonjol dibanding sebayanya. Masa itu banyak yang mengaguminya, mengatakan ia mengesankan tapi tidak denganku. Di usia semuda itu, aku menganggapnya membosankan. Sama sekali tak menarik, meski berusaha paham.

Menginjak usia ke-14, bayangannya kian pudar. Berganti dengan sosok keren kekinian, dengan gaya omong yang lugas dan obrolan yang selalu up to date.
Di usia dua puluhan, aku benar-benar melupakan. Tak pernah bersentuhan, meski samar.

Sekarang aku justru merasa senang bisa bertemu kembali dengannya. Mungkin karena aku kini telah dewasa, melihat dunia dengan kacamata berbeda. Filsafat yang dulu terasa berat untuk dicerna, kini mulai bisa dipahami artinya.

"Apa kabar gadis kecil? Lama tak bersua, kemana saja kau berkelana?" tanyanya dengan tubuh tegak dan tangan memegangi gagang pedangnya. Kulihat kehangatan di matanya yang …

...BAGIAN...

Gambar
mari mengukur sejauh apa kita mencintai...
mengungguli nepal dari himalaya kah?
meluap seperti penyair mengecap kosakata puitisnya?
tertinggi diantara rembulan dan rasi bintang?..

seorang pengasih adalah membebaskan belahan jiwanya berpendar,
benderang diantara ilusinya, di dalam ketajaman hayalannya..
seorang penerima cinta adalah mengakui kuasanya dibuai rentangan cinta,
mengiyakan bahwa tanpanya, seperti terlelap tanpa mimpi...

mari mencari tau sedalam apa sebuah kebencian..
seperti mengukur ujung hari ke hari berikutnya kah?
seperti kurun waktu jaman romawi berbalik ke kehidupan kali kini?

tidak cukup mempertanyakan cinta...dia bukan untuk direndahkan, bukan dihentikan..
dia akan menemukan jalannya...mengunggah kejayaannya sendiri.
Diantara derita dan isak
Diantara senyum dan kerlingan mata....


Pujalah sebuah kasih seadanya saja...
berlebihan akan membuatnya terbirit lari..takut tak sewajarnya..
dia akan tau caranya merengkuh, memberi peluang-peluang indah.
"karena... sejati…

BB

Yang namanya senam wajar dong kalau keringat berleleran.
Yang namanya senam sudah biasa kan kecapekan.
Yang namanya senam pasti pengennya dapat kebugaran. Tapi kali ini yang kita dapat justru senyum lebar, cengengesan. Sewaktu seseorang berkata ,''Igh! Mau muntah deh gara-gara BB-nya.''

Hm, piye to jeung? Memang benar BB-nya memabukkan tapi bukankan sampeyan juga demikian? Mbok ya kalau bicara tengok kiri-kanan, ndak asal. Bisa-bisa sampeyan yang ditertawakan.
Rasanya, pepatah kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak cocok untuk sampeyan.
Untung saja yang diomongin nggak dengar, kalo nggak bisa habis sampeyan dicincang.

HUFFH!!

Laptop gak ada, pc-ku sakit juga. Trus gimana nulisnya? Garuk pala ampe sakit kok ya ndak nemu jalan keluarnya.
Oalah, mana gak punya cadangan diluar, misal catatan. Soalnya aku biasa nulis langsung di kompi. Kalo gini aku jadi
Pusing sendiri.

PIYE JAL?!
HUGH!

Sabar ning...sabar

KETIKA PESAN ASING ITU DATANG

Tak terbentang, tak terbuka lebar bila hati tak menginginkan. Pesan perkenalan tersalut kerahasiaan sama sekali tak mengesankan, justru membuatnya memasang tembok tebal.

'' Keras kepala!'' celetuk satu suara.
Tetapi ia acuh saja. Diangkatnya bahu tanpa beralih dari e-book yang dibacanya.

'' Bukan keras kepala, hanya perkara kejujuran saja. Tak terbiasa bermanis kata, penuh gula pada pengembara yang hendak memasuki wilayahnya. Segala hal yang anonim tak menarik hatinya, akan selalu berakhir di tempat sampah jika tak mengindahkan peraturan yang terpampang di pintu gerbang. Perempuan yang ini memang berbeda. Menerkanya tak semudah yang diperkirakan. Tiap kemanisan datang dan ditawarkan sensor-sensornya akan berjalan. . Usaha untuk membuatnya terkesan biasanya gagal jika di pintu awal ia salah mengambil langkah. Bukan,bukan pula kejam seperti yang kau pikirkan. Tetapi ia memilih unsur kehati-hatian atas banyak hal,'' bisik suara lain panjang lebar.

*ter…

SEPULUH ALASAN KENAPA BUNDA JELITA

Semua orang berkata Bundaku jelita. Dan aku hanya bisa menahan kesal tiap kali mereka berkata ,” Kamu tak secantik bundamu.”
Apa yang harus kulakukan untuk bisa secantik Bunda? Dan bagaimana ia bisa secantik itu? Tanyaku penasaran. Tapi aku tak juga menemukan jawaban hingga bertahun-tahun kemudian, saat masa kanak-kanak telah jadi kenangan dan masa dewasaku datang.
Pertama, untuk jadi secantik Bunda harus cerewet dan bisa mencubit sampai membekas. Bukan cerewet dan cubitan biasa yang hanya menimbulkan kebencian dan rasa sakit setelahnya. Tapi kecerewetan dan cubitan sayang yang disertai nasehat panjang lebar berisi kebaikan tiap kali kau melakukan kesalahan. Tak pernah bosan untuk mengulang meski balasannya gerutuan kesal yang berbunyi ,”Bunda jahat! Bunda jelek! Bunda nggak sayang aku!” Kedua, kau juga harus bisa menjewer telinga sampai panas. Tentu saja tak sekedar jeweran yang memerahkan telinga, tapi ada ajaran penting yang ia tiupkan kedalamnya. Seperti …