Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2013

THE COLOUR OF CARNIVAL

Gambar
O, BERAAAT NIAN   Cantik, orangnya ya kostumnya, tapi kalo aye yang disuruh pakai mending ngacir aja. Berat bo kostumnya, mana pake high heels pula *nyungsep dah  Dengan sayap lebar menuh-menuhin jalan, si Mbak tetap stay cool. Bahkan pasang senyum PROFESIONAL! kalau aye, hoooh kalo ada pilihan mending dilamar Vampire Ganteng di film Toilet deh   Kliyepan jaya, mau nggantiin kok ya... Aye yakin pasti malemnya begadangan nemplokin berbagai benda buat kostumnya RUNAWAY NIH YEE... harusnya ikut barisan karnaval, lah kok nyempil barengan penonton, Nak? Hayoo lhoo... SLUUUURP.....GLEG!   Dik, kalo es-nya dianggurin, lempar aja ke sebelah  *nunjuk diri sendiri BOLEH DITIRU kucluk, kucluk, kucluk...seorang penjual datang menawarkan sekotak kecil strawberry mungil bertabur gula *lhoo? then....cara makannya ternyata si strawberry kecut diusep-usep sama gula. Ealaah.. Aneh ya, haha

LEARN FROM WILD LIFE (MUMBLE TO MY SELF)

Gambar
TITIK KRITIS Hujan baru saja berhenti ketika mata kamera saya menemukannya. Binatang itu pasti tidak mengira kalau satu hari ia hidupnya akan berada di satu titik kritis ketika antenanya terkena jaring laba-laba. Sekuat tenaga ia mencoba melepaskannya tetapi ternyata tidak cukup kuat untuk melakukannya. Sejenak ia diam, lalu kembali bergerak kencang. Terus begitu sekian saat lamanya. Pada saat yang sama saya tengah berpikir, apa yang harus saya lakukan bila saya berada di posisinya? Berada dalam satu titik dimana tak satu pun bisa menolongnya? Orang-orang yang kita kira akan rela mengulurkan tangan ternyata tak kelihatan batang hidungnya. Apakah pasrah dan bersandar pada Allah atau justru pada kekuatan lain yang katanya bisa membebaskan kita dari bencana? Semoga Allah menunjukkan kau, aku, dan semua agar pilihan pertama yang kita ambil, bukan yang kedua. BASAH Dihamburi embun pagi, rasanya pasti menyenangkan sekali. Tetapi tidak bagi kupu di bawah ini. Ia tak b

LOOK DOWN, CLOSER (MUMBLE TO MY SELF)

Gambar
Apa kau melihat dia, Tuan? Ia yang kini meringkuk kelelahan. Tak ada penyakit ganas menyerang tubuhnya. Ia     hanya terlalu banyak mendongak,   hingga leher kaku dan mata berkunang-kunang. Semakin mendongak, semakin timbul iri dan tidak senang. Semakin pula hatinya dipenuhi kemarahan. Pada taraf positif kemarahan itu membuatnya bergerak mengejar ketertinggalan.   Tetapi semakin kemari sisi positif itu kian pudar, smentara kutub negatif kian terpancar. Buntutnya ia menyalahkan Engkau, Tuan, atas jabatan, ketenaran, uang...segala gemerlap yang tak kesampaian. Hingga baginya dunia itu hanya suram. Pada pagi seterang tanah, kau menggamitnya, Tuan. Mengajaknya keluar dari keterkungkungan perasaan. Kau ajak ia menapakkan kaki ke tanah lapang. Membiarkan kaki merasakan rumput-rumput basah oleh embun dan semilir angin yang menyejukkan. Tetapi hati yang kusam itu tak merasakan keindahan. “Apa bagusnya berada di tanah lapang dengan tumbuhan liar sejauh mata memandang?” pik