Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

SWITCH ALPA 12, NOTEBOOK YANG MELEBIHI HARAPAN

Gambar
Banyak yang mengira pekerjaan sebagai penulis itu pekerjaan yang keren dan seksi. Padahal yang sudah menjalani justru tahu pekerjaan ini berat. Banyak yang akhirnya berhenti di tengah jalan, karena tidak sanggup menerima ujiannya. Bayangkan, tidak mudah menembus majalah atau koran. Tak cukup sebulan waktu tunggu hingga akhirnya karyamu layak tayang. Bisa berbulan-bulan hingga kau lupa pernah mengirimkan karya di majalah atau koran itu. Begitupun menerbitkan buku di penerbitan. Butuh jangka waktu sedikitnya tiga bulan untuk tahu kepastian apakah karyamu layak diterbitkan. Jika lebih dari itu tak ada jawaban harus sabar. Barangkali masih menunggu antrian. Bukankah yang kirim ke satu penerbit itu bisa ribuan? Kalaupun akhirnya layak terbit, si buku masih harus melalui proses yang lama lagi. Saya pernah menunggu kurang lebih dua tahun untuk menunggu terbitnya novel berjudul Glamo Girls yang saya tulis bareng dua teman saya, Tya dan Fitri. Jika sebegitu lamanya waktu yang dibutuhkan untuk t…

ISL (INSPIRASI SEKOLAH LITERASI BANYUWANGI) BATCH 3 : GERAKAN KECIL YANG MENGESANKAN

Gambar
Beberapa tahun lalu seorang karib saya, Dee, mengajak saya untuk mengumpulkan teman dan memberi inspirasi ke sekolah-sekolah. Mereka akan menceritakan profesinya sendiri-sendiri, berharap itu bisa menjadikan anak-anak yang kami temui bercita-cita setinggi mungkin. Waktu itu saya menolak. Dengan gamblang saya mengatakan bahwa apa yang dia lakukan itu tak semudah membalik telapak tangan. Mengumpulkan dan meminta mereka meluangkan waktu di hari kerja bukan perkara gampang. Yang paling penting adalah perijinan. Saya jenis manusia spontan, paling malas kalau harus menghadapi birokrasi macam-macam. Padahal kalau sudah berurusan dengan pihak sekolah banyak yang harus dilakukan. Harus ke UPTD, harus ke sekolah, dan ngurus segala tetek bengek lain demi menyukseskan acara. Apalagi kami tinggal di kota yang berbeda. Dia dimana, saya dimana. Dia juga tak selalu pulang setiap pekan. Ini ngaturnya gimana? Kalau ada yang bikin acara seperti itu dan saya tinggal nyemplung tanpa repot jadi panitia ya …

BATAL GANTUNG PENA BERKAT WIFI.ID

Gambar
“Jadi penulis tak boleh gampang nangis. Harus tahan bantingan, sebab banyak sekali kesulitan menjelang. Tak cuma soal naskah yang tak ada kabar, tapi juga ketahananmu menghadapi krisis finansial.”
Saya mengetahui hal-hal itu sejak saya terjun di dunia literasi tahun 2009. Tapi, saya baru paham setelah benar-benar menggantungkan diri pada pekerjaan satu ini sejak 2012. Saya memang tergolong nekat, berbekal pengalaman menulis yang minim saya berani terjun menjadi penulis. Maka ibarat orang lari yang tak melakukan pemanasan cukup ketahanan saya pun menurun. Meski lintasan yang dicapai belum mencapai seperempatnya, saya megap-megap karena kesulitan bernapas. Walau begitu saya tetap bertahan. Saya sudah memulai perjalanan, jika saya berhenti maka sia-sia saja langkah yang sudah saya lakukan. Tetapi, ketika dompet hanya berisi lima ribu rupiah saya menyerah. Sepertinya saya harus berhenti saja. Uang sebanyak itu hanya cukup untuk pergi ke warnet satu kali. Lalu selebihnya bagaimana? Padahal s…

AKHIRNYA SAYA PILIH IBU DAN BUKAN PEKERJAAN

Gambar
Agustus, 2014. Tak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang yang tengah dilanda “kekeringan” ketimbang tawaran pekerjaan. Maklumlah sebagai penulis saya memang masih taraf belajar. Tulisan saya belum banyak yang tembus ke media. Beberapa kali jadi finalis atau menang lomba nulis, tak berarti saya mumpuni. Maka tak heran jika hasil dari menulis jauh dari harapan. Tak bisa dijadikan pegangan. Maka wajar jika saya bergembira ketika karib saya, Endang, mengatakan ada lowongan pekerjaan. Meski pun profesi yang ditawarkan jauh sekali dari ilmu yang saya pelajari semasa kuliah dulu yaitu jadi guru SD di sebuah sekolah swasta baru. “Siapa tahu, Fin. Kenapa tidak dicoba? Nggak apa-apa meski kamu lulusan Faperta.” Pertanyaannya kemudian ”Apa saya mampu? Mengajar tak sekedar mencari uang, didalamnya ada tanggung jawab besar. Apalagi saya tak memiliki ilmu mengajar”. Seolah tahu apa yang saya pikirkan, Endang, sahabat saya itu berkata ,”Coba saja. Tak ada salahnya. Yuk aku antar ke tempat Mbak Sita (…