Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

SEKELUMIT KISAH TENTANG WANITA YANG KUPANGGIL IBU

Gambar
Aku yakin masih lebih banyak ibu yang hebat di dunia ini ketimbang ibuku. Tetapi ibu-ibu paling hebat itu bukan ibuku.Kukatakan padamu, ibuku wanita biasa, terlahir dari keluarga kelas pekerja. Ia-lah yang meletakkan seluruh dasar-dasar dalam hidupku sejak aku lahir dan kemudian beranjak menjadi besar setiap tahunnya.
Semua dimulai di hari ketika aku dilahirkan di bulan Juli bertahun-tahun lalu.Kata ibuku aku lahir menjelang pagi, tentu setelah berjam-jam membuat ibuku sakit karena aku terus mendesak untuk menghirup udara bebas setelah sembilan bulan sepuluh hari aku berada di perutnya.
Seperti ibu-ibu lain, ibuku mengalami masa-masa sulit menjadi ibu baru. Tak punya pengalaman, kesulitan menyusui di awal, kurang tidur malam, dan masih ditambah lagi dengan kenyataan bahwa esok pagi ada rutinitas yang menunggu untuk dilaksanakan. Apalagi jika bukan bekerja sebagai sukwan di sebuah rumas sakit di daerah tempatku tinggal.

PRIA IDAMAN ITU HARUSNYA...

Gambar
Saya selalu bingung kalau ditanya soal pria idaman. Kalau sekedar bilang saya bisa aja secara klise berkata, pria idaman itu harusnya :
“Yang pantes dibawa ke kondangan”

Tapi kemudian saya batalkan karena ketika saya berpikir kalimat itu terdengar seperti bingkisan. Kalau bingkisan berarti saya harus siap menghadiahkan pada orang suatu hari kelak *gleg! Oke, kali ini saya akan bilang :
“Yang pantes dipamerin di meja makan...”


Masalahnya saya merasa kalimat itu menunjukkan pria saya kelak semacam hidangan. Semua orang boleh mencicip dan dibawa pulang. Oh, tidak! Atau mungkin malah semacam barang pecah belah dan teman-temannya, seperti sendok, garpu, atau malah pisau roti? Lho, ndak bener ini. Maka saya pun nggak jadi mengatakannya. Well, bagaimana dengan kalimat di bawah ini :