Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

IJIN TEMAN KALA BERTAMU, SUNGGUHKAH PERLU?

Gambar
Pic : mentatdgt from Pixabay   Kebanyakan ketika kita bertamu, tak perlu ijin atau bilang dulu. Cuz, datang saja tanpa perlu repot ngomong ini-itu pada keluarga atau kawan yang hendak kita datangi. Saya sendiri juga melakukannya, tetapi tidak pada semua orang. Biasanya memang hanya berlaku bagi mereka yang sudah saya kenal baik. Ikrib bingit, istilah anak sekarang. Itu pun tidak banyak, hanya beberapa gelintir saja. Belakangan saya memilih untuk minta ijin dulu jika ingin bertamu. Bertanya pada teman saya apakah ia ada waktu atau tidak, sibuk atau tidak, atau pertanyaan lain yang intinya semacam itu.  Lho, buat apa? Kok harus seformal itu? Ya kalau mau namu ya namu aja kali? Dulu saya pun berpikir begitu. Namun, sejak teman-teman menikah kebiasaan bertandang tanpa diundang itu saya kurangi perlahan. Bagaimanapun juga mereka punya kesibukan yang berbeda dengan saya. Ada prioritas utama yang harus diurusi ketimbang saya, temannya. Maka saya pun tidak ingin menjadi pengg

CERITA TENTANGNYA YANG DIAM-DIAM SUKA SEDEKAH PADA KUCING DAN BURUNG-BURUNG

Gambar
Sunber : Lalesh Aldarwish dari Pixabay Beberapa waktu lalu saya sambang ke rumah teman lama. Sejak lulus kuliah saya tak pernah lagi bertemunya. Kebetulan kapan itu ada waktu saya menyempatkan diri mampir ke rumah setelah pulang jadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi Pasuruan.   Selama dua hari dua malam di sana bukan rumahnya, hidangannya, atau berapa luas tanah yang dimiliki dia dan keluarganya yang selama itu saya perhatikan. Akan tetapi, hal lain yaitu soal sedekah. Paginya, waktu kami hendak makan, ia tak hanya sibuk menyiapkan makanan untuk saya dan keluarganya. Namun juga mahkluk Allah lainnya, kucing-kucing milik tetangga. Ia goreng pindang beberapa, lalu ditiriskan dan disiapkan di atas meja. Seraya menanti kucing-kucing itu tiba, ia persiapkan makanan di atas meja. Bukan di ruang makan letak mejanya, tetapi di halaman belakang yang berbatasan dengan saluran irigasi ( kalen kata orang Jawa) serta sawah dan kebun sengon milik keluarganya. Setelah itu ia menga

ROMBEL CENDOL DAWET KIPAS 7 : RAMAI-RAMAI "MERASUKI" MURID SDN OROBULU

Gambar
  Saya sudah bersiap menempuhi medan berat ketika diterima di Kelas Inspirasi Pasuruan 7 (KIPAS 7) sebagai Relpeng (Relawan pengajar/inspirator) di salah satu SD di Kecamatan Rembang, Pasuruan. Tepatnya di SDN Orobulu. Saya bayangkan medannya akan seperti Sarongan dan Kandangan, tempat saya mengajar sehari di ISL Batch 4 dan Batch 5. Tidak hanya jauh dan melewati hutan-hutan, jalanan menuju kedua tempat itu juga menantang.  Kalaupun tidak menantang, medannya pasti menggemaskan seperti desa Kaliglagah (Sumberbaru, Jember) yang saya tuju sewaktu ikut KIJE 6, tahun lalu. Tidak hanya melewati hutan, tetapi jalanannya buruk, berbatu-batu, dilengkapi dengan tanjakan, turunan, dan tikungan tajam. Pokoknya bikin hati berdebar, laksana dikejar mantan yang tak diinginkan.  Aih, ternyata medannya tak seberat itu. SDN Orobulu tempat saya dan rekan-rekan relawan mengajar sehari tanggal 19 Oktober lalu tak jauh dari jalan raya. Jalanan ke sana pun sudah   beraspal mulus semua.