Postingan

Menampilkan postingan dengan label ANAK SAYA YANG PEREMPUAN

Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

ANAK SAYA YANG PEREMPUAN

Anak saya yang perempuan, umurnya sudah tiga puluh sekarang. Betah betul melajang, bikin hati saya empot-empotan. Mikir siang malam, apa jadinya kalau ia terus menerus sendirian. Apa dia ndak ngerti kalau kawin punya anak lewat tiga puluh itu beresiko tinggi? Bukan hanya itu, kalau terlalu tua saat punya anak itu ndak enak. Bayangkan disaat anak-anak masih memerlukan biaya besar, kita sudah loyo. Tak bertenaga untuk mencari uang. Repot kan?

Tapi dianya ringan. Tiap kali saya menyinggung perkara itu jawabannya enteng saja. Nanti juga ketemu.
Kapan?
Entahlah.
Ibu kan keburu tua. Kalau mati gimana?
Eh dia malah berkata ,” Lha kalau saya dulu yang mati?”
Skak mat! Saya ndak bisa omong. Hanya menghela nafas panjang dan membiarkannya melenggang.
Tulilut! Tulilut!
Itu hape anak perempuan saya. Nampaknya ia tak berkenan. Sambil mendecak malas ia biarkan sms itu berlalu tanpa balasan.
“ Dari siapa kak?” saya berharap yang sms itu-pria.
“ Orang kantor. Males deh. Lagi cuti juga ada aja yang nelfon kemari…