Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Pencernaan Terjaga, Aktivitas Lancar Jaya, Berkat Ekstrak Alami Lidah Buaya

Gambar
Sejak 2012 silam saya beralih profesi, dari pekerja kantoran menjadi penulis. Banyak suka duka saya alami. Salah satunya adalah dianggap remeh dan gampang. Beberapa pihak mengira   jika menulis itu pekerjaan yang mudah. Tidak perlu usaha, lha wong tinggal duduk dan mengetik saja. Padahal tidak demikian. Untuk membuat satu artikel tentang manfaat buah kepel yang tayang di majalah berbahasa Jawa (Jayabaya) empat tahun silam, saya harus berupaya keras membaca banyak jurnal berbahasa Inggris sebagai dasar tulisan. Begitu juga sewaktu saya menulis novel solo pertama yang terbit di Sheila ( imprint penerbit Andi), “ Sweet Sour Love : From Spring To Winter ”. Demi cerita ini saya browsing dan membaca sebanyak-banyaknya tentang pergantian musim di Eropa. Seperti apakah musim semi, musim panas, musim gugur, hingga musim dingin untuk mendapatkan gambaran utuhnya. Itu baru perjalanan awal. Selanjutnya masih ada proses panjang yang dimulai dari pengiriman naskah ke penerbit, penerimaan, lal

Hei, Blogfam Homecoming!

Gambar
Tahun Mei 2006 saya memiliki blog pertama kali. Komunitas yang saya tuju waktu itu adalah Blogfam, salah satu komunitas blog besar pada masanya. Tujuan saya waktu itu sederhana, menambah ilmu dan pertemanan. Maklum saya baru di dunia itu. Wajar jika kemudian saya merasa butuh kawan, agar tak sendirian. Jaman itu blogfam tak ubahnya diary, berisi kisah keseharian. Tidak seperti sekarang dengan niche-niche tertentu, misalnya jalan-jalan, makanan, atau bahkan finansial. Bikin kita, yang baca ini serasa kenal secara pribadi dengan penulisnya meski tak pernah jumpa.  Sekarang perkembangan blog luar biasa. Dari sana seseorang bahkan bisa menangguk untung berjuta-juta berkat tayangan di blog yang mendatangkan banyak pembaca. Tidak hanya itu saja, dari blog seseorang bisa mendapat tawaran kerja dari mulai review produk hingga review hotel. Keren ya?  Lha saya bagaimana, rasanya sejak memiliki blog 12 tahun silam, blog ini tak berubah. Tetap menjadi diary bagi saya. Bahasany

Sekelumit Kisah Dari Kelas Inspirasi 6 Di Kaliglagah

Gambar
  Perjalanan Menuju MI Al Khairat, Kaliglagah Saya sedang tak enak badan ketika berangkat ke Jember, Jumat (5 Oktober 2018), pukul 14.51. Hidung masih mampet, batuk masih tersisa, dan meriang masih tak mau lepas dari badan saya meski   sudah mengalami hal ini sepekan sebelumnya. Saya berbaik sangka saja, insyaallah ketika sampai di tempat hal-hal tersebut tak jadi kendala. Satu setengah jam perjalanan, saya sampai di Jember. Yova, relawan fasilitator yang menjemput   saya, sudah standby di samping masjid yang tepat di sisi kiri stasiun Jember. Saya langsung mengenalinya karena baju batik bermotif burung merak yang dipakainya. Kok tahu? Iya, sebelumnya Yova memang menyebutkan pakaian yang dia kenakan via WhatsApp . Biar saya mudah mencari dia.   Dari stasiun, Yova mengajak saya ke rumah relawan lain, Riza Rastri. Di jalan Yova sempat bilang, kemungkinan besar saya mengenal Riza. Saya sempat mengerutkan kening, tapi begitu ketemu saya langsung paham. Saya sudah ketemu