Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2007

Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

CERITA RICO : SORRY, I CAN’T…..

Terima kasih kamu mengagumiku, menyukaiku, bahkan mengejarku dengan gagah berani. Tak terhitung berapa banyak bunga yang kau kirim untukku, tapi maaf tak satupun membuatku terpesona. Soalnya aku alergi bunga, tiap kali membauinya aku langsung bersin. Maaf…
Oh ya aku juga tak boleh melupakan kebaikanmu atas sederetan hadiah yang sayangnya harus ku tolak. Aku tahu kamu jauh dari jelek, kamu sangat good looking hingga digandrungi banyak pria-pria tampan, yang tak segan menghujanimu dengan pujian bahkan segunung hadiah. Namun sayang aku tak tertarik padamu. Gimana lagi kamu bukan tipeku. Tahu kenapa? Karena kita sama-sama pria. Itu saja.

Done, 220207,15:23
PINTA’S DAILY STORY(THE SERIES)


CERITA SI KUDA PUSAKA

Alkisah kuda tua itu disebut Jaka Lara. Maklum didapat kala lara(=sakit) atau sengsara jaman baheula. Kata Bapak sih sebelum muncul kuda-kuda baru yang lebih keren, sepeda itu adalah pangeran di jamannya. Tapi semakin kesini semakin kesini, kuda tua itu tambah keriput, sudah nggak jaman dengan warna yang hitam pudar. Ketika saya tanya kenapa Bapak tidak membeli adik baru buat kuda kami, beliau menjawab,” Nunggu sawah di atas pohon bendho panen.”
Lha iya memangnya ada sawah nangkring diantara ranting pohon bendho? Mbok nunggu sampai kiamat ya nggak ada. Jadi intinya kata-kata Bapak itu kiasan dari hil yang mustahal….

Terus terang, Bapak menyayangi betul kuda tuanya. Dengan tangan dinginnya beliau menjaga agar si kuda tetap sehat di masa tuanya, sehingga bisa terus menjalankan kewajibannya sebagai tunggangan kami sekeluarga. Wajar, soalnya tanpa dia kami nggak bisa kemana-mana. Ialah yang berjasa mengantar kami pergi ke sekolah, dan seabreg kegiatan lainnya.

Tapi bagaimanapun juga hari per…

FAIR IS PAS PORSINYA

“Kira-kira siap nggak kalau suatu ketika suamimu poligami?”
Heh? Kepikiran aja enggak. Tapi akhirnya saya jawab juga pertanyaan itu,”Nggak tahu, lha belum pernah ketemu. Tapi semoga tidak, kenapa?”
Bundanya Firda kemudian bercerita, alkisah seorang perempuan yang sebelumnya menjadi istri kedua seorang pria, berubah status saat istri pertamanya meninggal dunia. Mengapa? Karena jika dulu ia jadi madu, kini ganti ia-lah yang dimadu lantaran sang suami menikah lagi.

Suatu ketika, sepulang dari haji, istri kedua si pria menelfon di tengah perjalanan pulang bahwa ia telah menyiapkan sambutan berupa selamatan besar di rumahnya. Si pria pun memutuskan untuk pulang ke rumah istri mudanya, sementara si istri tua ia biarkan pulang sendirian. Tahu apa yang terjadi kemudian? Si Ibu ( istri tua) pulang ke rumah dengan cara sembunyi-sembunyi, tak berani menampakkan kepulangannya saat siang hari.
Ndilalah, suatu hari saya iseng buka-buka Tarjamah Al Qur’an, mencari suatu ayat yang dikatakan Pak'e beb…

SAAT LUANG

Gambar
Wii segar! Tapi awas buah-buahan itu palsu, terbuat dari kaos bekas dan kain perca yang digunting sesuai pola. Baju itu tadinya polos tapi karena ingin beda akhirnya diberi aplikasi sulaman pita, yang ilmunya didapat melirik dan melihat diam-diam pada seorang penjahit terkenal. Tasnya bukan hasil bordiran, hanya sulaman tangan. Jangan tanya berapa lama membuatnya yang jelas mata, tangan, dan pinggang sampai pegal-pegal dey. Taplak berhias bunga dari kain perca itu juga sulaman tangan, bukannya bordiran. Sayangnya saya enggak bisa menjahit jadi harus minta bantuan saat merangkai tas dan merapikan pinggiran taplak meja.

Mulanya semua tak percaya kalau hasil kerajinan tangan itu adalah buatan saya. Wajar, kebanyakan orang berpikiran mana mungkin saya yang dianggap tomboy ini bisa mengerjakan keterampilan demikian. Kok pegang benang dan jarum untuk menyulam, masak aja paling-paling nggak bisa, ya kan? Hehehehe, whatever lah, meski enggak jago saya bisa melakukan keduanya (kalo lagi kumat r…